Rumah Ketua PN dan JPU Kolor Ijo Diawasi Polisi – KOLAKA POS

KOLAKA POS

HUKUM & KRIMINAL

Rumah Ketua PN dan JPU Kolor Ijo Diawasi Polisi

Net/Ilustrasi

KOLAKAPOS, Makassar–Kaburnya Iqbal alias Balla alias Kolor Ijo dari Lapas Gunung Sari, Makassar telah memunculkan keresahan di banyak kalangan. Polisi harus bekerja ekstra untuk menemukan kembali terpidana mati ini.

Kepolisian Resort (Polres) Luwu Timur menurunkan sedikitnya 40 personel dalam rangka menggelar operasi cipta kondisi (cipkon), Minggu malam (7/5). Pemeriksaan terhadap kendaraan yang melintas dilaksanakan di perbatasan antara Kabupaten Luwu Utara dan Luwu Timur. Tepatnya di pos ekonomi Desa Lauwo, Kecamatan Burau.
Selain itu, polisi juga menjaga kediaman ketua Pengadilan Negeri Malili dan majelis hakim lainnya yang mengadili kasus Kolor Ijo. ”Kediaman ketua PN dan majelis hakim dipantau secara rutin oleh anggota. Hal itu dilaksanakan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan,” kata Kapolres Luwu Timur AKBP Parojahan Simanjuntak, kemarin.
Polisi juga memantau kediaman sejumlah pihak terkait kasus Kolor Ijo. Seperti Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan pengacara. “Informasi yang kami dapatkan, pengacara sempat disebut-sebut oleh terpidana yang kabur. Karena itu kita turunkan anggota untuk rutin memantau,” jelasnya.
Perwira dua melati di pundaknya ini menegaskan, semua pihak terkait yang berkaitan dengan vonis hukuman mati terpidana Iqbal terus diawasi guna memberikan rasa aman. Termasuk rumah terpidana yang berada di Kalaena.
Pascakaburnya Iqbal, warga di Luwu Timur diliputi kecemasan. Mereka pun ramai-ramai menuangkan kegelisahannya melalui media sosial seperti Facebook.
Seperti akun Khairoel Irul menuliskan di halaman Facebooknya. ”Hati-hati…Terpidana mati kolor ijo melarikan diri dari LP…segera laporkan kalo melihat orang ini.”
Bukan hanya menulis status, akun ini juga mengunggah tiga buah foto saat terpidana mati Kolor Ijo sedang menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Malili.
Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo juga angkat bicara terkait kaburnya tiga napi dari Lapas Klas I Makassar. Ia menilai, ini merupakan kasus biasa jika dibandingkan yang terjadi di Pekanbaru, dimana semua tahanannya kabur.
Namun, dia tetap akan mengomunikasikan persoalan tersebut kepada Kanwil Kemenkumham.
Syahrul mengakui selama ini semua lapas di Sulsel mengalami masalah yang sama, yaitu over kapasitas. Hal ini kerap menjadi penyebab terjadinya gesekan atau bentrok antarnarapidana dan tahanan.
“Semua lapas sebenarnya secara normatif melampaui batas yang ada. Dan itu menjadi dasar pertama terhadap sebuah dinamika dan kompleksitas masalah yang ada di sana,” katanya.
Untuk mencegah bentrokan dalam lapas dan tahanan kabur, Syahrul bersama Kanwil Kemenhunkam tengah melakukan koordinasi. Salah satunya, pemprov ikut terlibat dalam pembinaan napi.
Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Nu’mang ikut menambahkan masalah utama yang terjadi di Riau dikarenakan petugas dianggap mempersulit tahanan bertemu dengan keluarga. Hal ini, menurutnya harus menjadi pelajaran bagi petugas lapas dan rutan di Sulsel.
“Masalah pembangunan dan penambahan rutan/lapas itu kebijakan pusat. Selain melakukan penambahan kapasitas, tentu bisa dilakukan dengan mengurangi tahanan, misalnya kasus narkoba kita rehab saja,” tambahnya.
Terkait tiga tahanan yang kabur, Agus meminta mereka untuk menyerahkan diri. Sebelum aparat keamanan melakukan tindakan tegas bagi mereka. (bkm/fajar)

Click to comment

The Latest

To Top