Empat Bulan, Terjadi 151 Kasus Curas – KOLAKA POS

KOLAKA POS

HUKUM & KRIMINAL

Empat Bulan, Terjadi 151 Kasus Curas

Net/Ilustrasi

KOLAKAPOS, Makassar–Angka pencurian dengan menggunakan kekerasan (curas) yang di terjadi di Kota Makassar terus mengalami peningkatan. Dari curas yang terjadi, berdasarkan laporan yang masuk di Polrestabes Makassar, aksi begal cukup mendominasi.

Kanit Idik I Reskrim Polrestabes Makassar Iptu Ismail,SH mengemukakan tahun 2016, laporan kasus curas yang masuk ke Polrestabes Makassar sebanyak 480 kasus. Dari angka itu, 283 diantaranya berhasil diungkap atau diselesaikan.
Sementara selama empat bulan di tahun 2017 jumlahnya mencapai 151. Rinciannya, di Januari jumlah laporan yang masuk sebanyak 32. Yang berhasil diselesaikan 18 kasus. Februari 42 kasus. Yang berhasil diungkap 19 kasus.
Untuk bulan Maret, jumlah laporan yang masuk 31 kasus dan berhasil diungkap 22 kasus. Sementara pada bulan April, jumlah laporan yang masuk cukup tinggi, yakni 46 kasus. Yang berhasil diselesaikan 33 kasus.
“Dari laporan terkait kasus curas yang masuk ke polrestabes, aksi begal mendominasi,” kata Iptu Ismail dalam Dialog Interaktif yang digelar Pemuda Panca Marga (PPM) Sulsel di Kafe Masa Kini, Jalan Pengayoman, Senin (8/5) dengan tema; Pemuda Sebagai Pilar Utama Penanganan Begal.
Dari kasus yang dilaporkan, paling banyak terjadi di Kecamatan Panakkukang dan Tamalate.
Dia melanjutkan, umumnya kasus begal yang ditangani polrestabes bervariasi, dengan pelaku remaja berusia 18 tahun ke bawah dan dewasa dengan usia 18 tahun ke atas.
Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan seorang remaja melakukan aksi begal. Namun yang paling dominan adalah faktor lingkungan tempatnya bergaul. Ada juga karena persoalan kebutuhan ingin membeli atau memiliki sesuatu namun tidak memiliki uang. Jalan paling mudah dengan melakukan aksi begal.
Orang tua, guru dan keluarga dinilai punya peran paling strategis untuk mencegah seorang remaja melakukan tindakan kriminalitas.
Menurutnya, sudah banyak program yang dilakukan kepolisian untuk mencegah remaja melakukan tindakan yang bukan hanya membahayakan orang lain, namun juga dirinya sendiri. Mulai dari melakukan sosialisasi di sekolah-sekolah, rutin menggelar patroli gabungan dengan TNI, melakukan operasi Cipta Kondisi, melakukan razia, bahkan pengukuhan Binmas.
“Ke sekolah juga sering dilakukan. Hampir setiap kami turunkan anggota ke sekolah untuk bertindak sebagai inspektur upacara atau irup,” jelasnya.
Sementara itu, Sekretaris Umum PPM Sulsel Iqbal Suhaeb menjelaskan, penanganan begal di kalangan remaja cukup dilematis. Karena di satu sisi jika dipidanakan masih kategori anak-anak. Namun jika tidak ditangani maksimal, nanti dikira ada pembiaran.
Diapun berharap anak muda, khususnya yang baru saja tamat SMA untuk mencari kegiatan positif dibanding nongkrong yang tidak bermanfaat. Keluarga harus punya andil untuk membentuk karakter seorang remaja. Sehingga dipandang perlu untuk terus melakukan pengawasan maupun membimbing para remaja yang sementara mencari identitas dirinya. (bkm/fajar)

Click to comment

The Latest

To Top