Biaya Transfer Antarbank BUMN Berpeluang Gratis – KOLAKA POS

KOLAKA POS

EKOBIS

Biaya Transfer Antarbank BUMN Berpeluang Gratis

KOLAKAPOS, Bogor–Integrasi empat bank pelat merah dipastikan rampung dalam waktu dekat.

”Mei sudah siap. Tinggal menunggu penerbitan peraturan presiden,” jelas Deputi Bidang Jasa Keuangan, Jasa Survei, dan Jasa Konsultasi Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Gatot Tri Hargo di Bogor.
Ada enam perusahaan jasa keuangan pelat merah yang terintegrasi dalam satu holding.
Termasuk empat bank BUMN, yaitu Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Mandiri (BMRI), Bank Tabungan Negara (BBTN), dan Bank Negara Indonesia (BNI).
Dua perusahaan lain adalah Pegadaian dan Permodalan Nasional Madani (PMN).
Induk holding perusahaan jasa keuangan tersebut adalah PT Danareksa (Persero).
Gatot menyatakan, pihaknya juga telah mengadakan sosialisasi bagi seluruh serikat pekerja untuk memuluskan proses integrasi.
Tujuan pembentukan holding BUMN tersebut sesuai dengan keinginan Presiden Joko Widodo mengenai peningkatan kapasitas perusahaan dalam negeri untuk menghadapi kompetisi di pasar internasional.
Selain itu, integrasi BUMN jasa keuangan diharapkan dapat menekan biaya operasional dan meningkatkan efisiensi.
Salah satu bentuknya adalah integrasi jaringan ATM bank-bank pelat merah yang tergabung dalam Himpunan Bank-Bank Negara (Himbara) ke jaringan ATM Link.
Nasabah bank-bank milik negara diuntungkan karena biaya transaksi antarbank BUMN nanti lebih murah, bahkan gratis.
Tarif transfer antarbank BUMN melalui jaringan ATM Link saat ini mencapai Rp 4.000 per transaksi.
Sementara itu, biaya transfer dari bank BUMN ke bank swasta nasional lain mencapai Rp 6.500 per transaksi.
Di lain sisi, biaya tarik tunai di jaringan ATM Link telah diturunkan dari Rp 500 per transaksi menjadi gratis.
Demikian pula biaya cek saldo dan transfer antar-rekening di bank yang sama. Namun, tarik tunai di ATM milik bank-bank BUMN non-Link tetap dikenai biaya.
Pemerintah sudah menugasi empat bank BUMN tersebut membangun sepuluh ribu ATM Link di seluruh Indonesia.
”Kami minta (biaya transaksi, Red) bisa diturunkan lagi. Kalau bisa menjadi Rp 0. Kalau bisa lebih murah, nasabah nonbank BUMN akan memilih masuk (menjadi nasabah, Red) bank BUMN,” kata Gatot.
Selain membuat biaya transaksi yang lebih ringan, pembentukan holding BUMN diharapkan dapat meningkatkan pendalaman (inklusi) di industri jasa keuangan Indonesia.
”Kami ingin perkuat basis di dalam negeri dari 36 persen mengarah ke 75 persen,” ungkapnya.
Pembentukan holding industri jasa keuangan tersebut telah mendapat lampu hijau dari regulator, yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI).
”Permintaan relaksasi teknis perbankan kami ke OJK nyatanya juga sudah dipenuhi. Juga sudah ada POJK (Peraturan Otoritas Jasa Keuangan) pada 2016. Jadi, masih on the track,” ucap Gatot.
Dengan bergabung dalam holding, belanja modal empat bank pelat merah diharapkan lebih efisien.
Dengan demikian, laba bank-bank itu diharapkan lebih tinggi.
Menteri BUMN Rini Soemarno menambahkan, pembentukan holding bank-bank BUMN berdampak langsung pada efisiensi back office.
Misalnya, biaya penyediaan dan perawatan mesin ATM, mesin EDC, dan database nasabah.
Saat ini, jumlah mesin ATM dari empat bank BUMN tersebut mencapai 60 ribu unit.
Namun, lokasinya berdekatan sehingga belum semua daerah terjangkau.
”Dengan holding, 60 ribu ATM bisa tersebar luas sehingga nasabah bisa bertambah. Kalau (biaya, Red) transaksi antara empat bank BUMN bisa kami jadikan nol, nasabah baru akan memilih bank BUMN karena ada di mana-mana,” ujar Rini.
Meski demikian, Rini memastikan integrasi keempat bank tidak menghilangkan peran dan citra tiap-tiap bank.
Hal itu penting karena BUMN juga bertugas memberikan dividen untuk penerimaan negara.
”Kalau pinjam kredit rumah, pilihan pertamanya ke BTN. Kalau pengusaha kecil, pilihan pertamanya BRI. Tapi, bukan berarti bank lain tidak ada programnya. Tetap jalan. Peningkatan laba menjadi target utama,” tuturnya. (dee/jpnn)

Click to comment

The Latest

To Top