SYL: Penataan Ekonomi Tidak Bisa Berjalan Sendiri – KOLAKA POS

KOLAKA POS

SULSELBAR

SYL: Penataan Ekonomi Tidak Bisa Berjalan Sendiri

KOLAKAPOS, Makassar–Chairman Fajar Group, HM Alwi Hamu memoderatori sebuah diskusi yang berjudul “Menatap Masa Depan Ekonomi Sulsel” dalam kegiatan “Daeng Alwi Bincang dengan Tokoh”, di Vertikal Cafe, Karebosi Condotel, Makassar pada Rabu (19/4) lalu.

Diskusi tersebut menghadirkan pemateri andal di bidangnya, di antaranya Gubernur Provinsi Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, Kepala Perwakilan BI Sulsel, Wiwiek Sisto Widayat dan Kadin Sulsel, Zulkarnain Arief.
Diskusi diarahkan untuk membincangkan arah dan progres ekonomi Sulsel di masa depan.
Berkaitan dengan pengembangan ekonomi Sulsel, Syahrul Yasin Limpo mengatakan, bahwa penataan ekonomi tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Sehingga diperlukan keterlibatan seluruh pihak agar ekonomi Sulsel lebih maju dan beresonansi.
Sebab, ujar gubernur dua periode tersebut, ekonomi yang beresonansi pasti hadirkan moralitas serta masyarakat yang kuat dan peradaban yang baik.
Untuk menuju ekonomi yang lebih maju, tambah Syahrul, adalah membenahi ruang pebisnis hingga kuat agar berakselerasi tanpa kecemasan. “Kalau perlu pebisnis perlu dibungkus dengan nasionalisme yang kuat,” ujarnya.
Tapi yang lebih penting, kata Syahrul adalah memperkuat kembali kekuatan di sektor pertanian. Sebab ia masih percaya jika pilar utama perekonomian Sulsel ada pada sektor pertanian.
Di samping itu, perlu memperhatikan kekuatan ekonomi di sektor kelautan, dan ekonomi di sektor pegunungan seperti coklat dan kopi. “Sektor-sektor itulah yang perlu ditingkatkan lagi. Apalagi Sulsel adalah pusat koneksitas dari seluruh arah perdagangan. Maka Sulsel adalah pilarnya Indonesia. Tidak salah kalau ibu kota negara pindah di Sulsel. Tidak perlu di Kalimantan,” tegas Syahrul.
Penataan ekonomi Sulsel kedepan menjadi lebih baik bukanlah tidak mungkin. Tahun 2016 saja, kata Wiwiek Sisto Widayat saat memaparkan materinya, jika pertumbuhan ekonomi Sulsel mencapai 7,41 persen. Hasil tersebut sudah berada pada angka yang cukup optimis. “Angka itu berada di atas rata-rata nasional. Pendorongnya ada beberapa sektor. Seperti pertanian, perikanan dan kehutanan penyumbang terbesar. Tak dipungkiri juga penyumbang terbesar pada sektor perdagangan besar dan eceran,” ujarnya.
Jika Sulsel bisa memaksimalkan seluruh sektor, khususnya pertanian, maka bukan tidak mungkin kata Wiwiek, ekonomi Sulsel bisa mencapai 7,8 persen sampai 8 persen.
Yang perlu juga diperhatikan, tambah Wiwiek adalah pengembangan sektor UMKM. Sebab selama ini, UMKM mampu menyumbang ekonomi Sulsel sampai 33 persen. “Hampir 35 triliun ada di UMKM. Tapi sayangnya banyak bank yang memberi kredit untuk UMKM ke sektor konsumsi saja, bukan investasi. Maka perlu didorong kredit UMKM ke sektor produktif. Jika itu dilakukan, ekonomi Sulsel bisa tumbuh hingga 8 persen,” ujarnya.
Perkembangan UMKM saat ini bukanlah omong kosong belaka. Saat ini, kata Zulkarnain, bicara UMKM tidak lagi bicara perkembangannya sampai skala kabupaten lagi. UMKM Sulsel sudah merebut kawasan Timur bahkan sudah go internasional. Ketika, UMKM sudah berada di zona nyaman, maka perlu melirik sektor lain untuk dikembangkan. Seperti, memperhatikan pertumbuhan Kakao dan coklat pada sektor pertanian yang mengalami penurunan, karena ada keputusan menteri keuangan tentang penetapan harga ekspor untuk bea keluar. Peraturan menteri kelautan larangan penangkapan lobster kepiting rajungan perlu didiskusikan. Akibat dari itu, rajungan kita ekspor. Saya takutnya rumput laut dulu no 3 suplaynya di Indonesia jadinya menurun,” ujarnya. (fajar)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

The Latest

To Top