Rebutan Tanah Warisan Berujung Pembunuhan – KOLAKA POS

KOLAKA POS

HUKUM & KRIMINAL

Rebutan Tanah Warisan Berujung Pembunuhan

Net/Ilustrasi

KOLAKAPOS, Pinrang–Warga Kampung Masola 1, Kelurahan Teppo, Kecamatan Patampanua, Kabupaten Pinrang telah ramai beraktifitas.

Karena mayoritas mereka berprofesi sebagai petani, ladang dan kebun menjadi pusat rutinitas keseharian. Salah satunya La Moha. Berusia 50 tahun.
Ia sudah datang ke ladang sejak matahari mulai menampakkan diri dari peraduannya. La Moha hendak membersihkan rumput. Tidak lama berselang lama, kira-kira pukul 09.00 Wita, muncul Ramang alias Ambo Palang. Berusia 53 tahun. Ia langsung menghampiri La Moha dan menegurnya. ”Kenapa kamu kerja sawah itu?” tanyanya.
La Moha sepertinya tak menerima baik teguran itu. Diapun kemudian berusaha mengeluarkan sebilah parang yang memawang dibawanya. Namun gerakannya terbaca oleh lawan.
Ramang ternyata lebih dulu menghunus parangnya. Sekali ayun, senjata tajam itu menyasar tubuh korban. Sabetan parang mengenai bagian pundak dekat leher. Seketika itu juga La Moha sempoyongan. Lalu kemudian jatuh tersungkur bersimbah darah. Diapun meregang nyawa di lokasi kejadian.
Usai menghabisi nyawa korban, Ramang langsung membuang parang yang digunakannya di lokasi kejadian. Selanjutnya meninggalkan korban yang sudah tak berdaya.
Pelaku ternyata pulang ke rumahnya. Ia berterus terang kepada seorang anaknya bernama La Lapang, bahwa dirinya telah membunuh La Moha. Selanjutnya, meminta agar dirinya diantar ke Mapolsek Patampanua untuk menyerahkan diri.
Petugas dari Polres Pinrang bersama Polsek Patampanua yang menerima laporan pengakuan pelaku, kemudian datang ke lokasi kejadian. Mereka pun langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Jasad korban dievakuasi ke Puskesmas Teppo untuk divisum. Sebilah parang diamankan dari lokasi kejadian sebagai barang bukti.
Kapolres Pinrang AKBP Leo Joko Triwibowo, kemarin mengkonfirmasi peristiwa ini. Ia menyebut, korban La Moha menjemput ajal usai ditebas parang oleh pelaku La Ramang.
Menurut Leo Joko, antara pelaku dan korban masih punya hubungan kekerabatan. Yaitu mertua dan menantu keponakan. Motif kejadian karena dendam. Keduanya terlibat perebutan tanah warisan.
”Dari hasil penyelidikan sementara, pelaku tersulut emosinya melihat korban di lokasi. Sengketa lahan itu telah diproses di pengadilan dan dimenangkan oleh korban. Pelaku kemudian menyimpan dendam hingga terjadi pembunuhan,” terang Leo Joko.
Menyusul peristiwa berdarah itu, pihak kepolisian berusaha melakukan pendekatan kepada keluarga korban. ”Kita dekati secara persuasif. Kepada keluarga korban diminta untuk tidak menaruh dendam yang bisa menimbulkan konflik. Karena pelakunya sudah diamankan dan kini dalam proses hukum,” terang Kapolres Pinrang.
Guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, sejumlah personel kepolisian diturunkan ke lokasi untuk melakukan pengamanan. Baik terhadap keluarga pelaku maupun korban.
Peristiwa pembunuhan ini merupakan yang kedua kalinya dalam sepekan terakhir di Kabupaten Pinrang. Sebelumnya, pada Jumat (14/4) lalu sepasang suami istri yang bermukim di Jalan Kesehatan, Kecamatan Watang Sawitto mengalami kejadian nahas. Sang suami Arifin (40) tewas, sementara istrinya Ati Sofwana (36) harus dirawat intensif karena mengalami luka cukup serius di bagian leher. (bkm/fajar)

Click to comment

The Latest

To Top