Habisi Nyawa di Samping Istri Gegara Sengketa Tanah – KOLAKA POS

KOLAKA POS

SULSELBAR

Habisi Nyawa di Samping Istri Gegara Sengketa Tanah

Net/Ilustrasi

KOLAKAPOS, Makassar–Malam merambat pelan. Jarum jam menunjuk pukul 22.00 Wita, Senin (10/4) lalu. Suasana di samping perumahan Griya Tonasa, Kelurahan Pai, Kecamatan Biringkanaya perlahan mulai hening.

Kesunyian perlahan terasa. Tiba-tiba sebuah teriakan histeris memecah keheningan malam. Suara itu berasal dari seorang perempuan.
Warga sekitar yang mendengar teriakan itu langsung bergegas datang. Ternyata, di dalam sebuah kamar rumah kayu yang tak terlalu besar, tergeletak sesosok pria.
Kondisinya sangat mengenaskan. Tubuhnya berlumuran darah. Di bagian leher terdapat luka menganga yang cukup dalam. Seorang perempuan duduk bersimpuh di samping tubuh pria malang itu.
Dia adalah Sain (50). Dari kartu pengenal yang didapat, Sain beralamat di Tombolo RT 001 RW 001, Desa Tanatoa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba.
Sehari-harinya Sain bekerja sebagai pekerja bangunan di Makassar. Ia tinggal bersama istrinya bernama Sida (51), beserta dua orang anaknya.
Di kala menghabisi nyawanya, Sain tengah berada di dalam kamar berdua dengan istrinya. Kamar mereka berdampingan dengan kamar yang ditempati kedua anaknya. Ketika itu istri dan anak-anaknya sudah pulas dalam tidurnya.
Ketiga orang dekatnya itu tak ada yang mengetahui perbuatan nekat sang kepala keluarga. Sida baru mengetahui suaminya telah menggorok lehernya sendiri setelah terkena cipratan darah dari bagian tubuh yang tersayat.
Istri korban memang lebih dulu berada di dalam kamar. Karena Sain sempat menghabiskan waktu bersama teman-temannya sebelum beranjak ke kamar untuk tidur.
Setelah masuk kamar, Sain langsung mengunci pintu. Di sinilah perbuatan nekat itu dilakukan. Ia menggorok lehernya menggunakan pisau. Seketika itu juga darah mengucur.
Selain terkena cipratan darah, Sida juga mendengar suara yang cukup keras. Diapun terbangun dan menemui suaminya telah bersimbah darah. Sida langsung berteriak histeris.
Istri korban kemudian meminta tolong kepada sanak keluarganya bernama Syamsiah untuk segera membangun kedua anaknya, Adi (19) dan adiknya. Adi terbangun lalu kemudian berjalan menuju ke kamar orangtuanya.
Alangkah kagetnya ia setelah mendapati tubuh ayahnya telah terbujur kaku di dalam kamar. Darah segar tampak menggenang di sekitarnya.
Tak lama berselang, aparat Polsek Biringkanaya tiba di lokasi kejadian. Beberapa saksi dimintai keterangannya. Selanjutnya menghubungi tim identifikasi Polrestabes, Inafis serta Dokpol RS Bhayangkara. Juga membuat laporan perkara dan meminta keluarga korban untuk dilakukan visum serta otopsi.
Tim Inafis dan Dokpol RS Bhayangkara yang datang ke tempat kejadian, langsung melakukan olah TKP. Hasilnya, ditemukan sebilah pisau dapur yang diduga digunakan korban untuk melukai dirinya.
Jasad Sain lalu dievakuasi pada Selasa dinihari (11/4) pukul 01.30 Wita. Dibawa ke RS Bhayangkara untuk dilakukan proses otopsi guna kepentingan penyelidikan. Polisi ingin memastikan motif dan penyebab hingga korban meninggal dunia.
Kapolsek Biringkanaya Kompol Henki Ismanto mengatakan, dari keterangan saksi-saksi di sekitar lokasi kejadian, korban diduga nekat menghabisi nyawanya lantaran depresi.
”Korban tidak mengidap penyakit. Diduga ia mengalami depresi akibat memikirkan perkara kasus tanahnya di Kabupaten Bulukumba. Ia berperkara dengan keluarganya di sana,” jelas Henki.
Mantan Kapolsek Tallo ini menerangkan, usai menggorong lehernya sendiri, korban terbaring di samping istrinya dengan memegang pisau. Diperkirakan, hanya sekali irisan di bagian leher, Sain lalu menjemput ajal. ”Ini murni bunuh diri,” kata Henki.
Dengan air mata yang terus berlinangan, Sida menceritakan ikhwal saat-saat terakhir ia bersama sang suami. Pada hari Senin dinihari (10/4) pukul 01.00 Wita, ia tiba di Makassar. Bersama suaminya, Sida baru saja dari kampung halaman Sain di Bulukumba.
”Saya baru tiba di Makassar setelah dari Bulukumba. Dia selesaikan masalah sengketa tanah dengan sepupunya,” terang Sida sambil terus membasuh pipinya yang basah dengan air mata.
Setibanya di Makassar, Sida langsung ke tempat kerja korban yang menjadi TKP. Pada pukul 08.00 Wita, seperti biasa Sain bersama teman-temannya kembali bekerja.
”Pagi hari suami saya bekerja bersama teman-temannya. Kira-kira pukul 11.00 Wita, dia bilang ke saya perasaannya sedang tidak nyaman. Ia mau mati saja, katanya,” terang Sida.
Namun, Sida tak terlalu menggubris kalimat yang disampaikan suaminya itu. Dia kemudian meminta Sain untuk beristirahat.
Usai beristirahat dan santap siang, Sain kembali melanjutkan pekerjaannya hingga pukul 17.00 Wita. Usai bekerja, iapun kembali ke pondokan dan membersihkan diri.
Malam harinya, korban bersama istri dan kedua anaknya bersantap malam. Setelah makan, korban beranjak ke depan pondokan. Disitu sudah ada beberapa rekannya yang sedang bermain domino.
Pukul 22.00 Wita korban kembali dan langsung masuk ke dalam kamar untuk bersitirahat. Saat itulah Sain mengakhiri hidupnya dengan cara tragis. (bkm/fajar)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

The Latest

To Top