Pemkot Tak Berwenang Intervensi Harga Lods Pasar Sentral – KOLAKA POS

KOLAKA POS

SULSELBAR

Pemkot Tak Berwenang Intervensi Harga Lods Pasar Sentral

Bangunan Pasar Sentral Makassar.

MTIR Minta Pedagang Segera Masuk

KOLAKAPOS, Makassar–Harga lods Makassar Mall masih berpolemik. Pedagang dan PT Makassar Tunggal Inti Raya (MTIR) masih tarik ulur. Bahkan para pedagang menuding MTIR terkesan memaksakan para pedagang untuk menerima harga yang telah ditetapkan oleh pengembang Makassar Mall tersebut. Harga yang dipatok PT Melati Tunggal Inti Raya (MTIR) berada dikisaran Rp 160 juta dimana harga tersebut dinilai terlalu mahal dan memberatkan bagi pedagang, khususnya bagi PKL.
Terkait hal itu, Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan “Danny” Pomanto menegaskan jika pihaknya hanya sebagai pihak penengah, antara pengembang dan pedagang. Pemkot ditegaskan tidak memiliki kewenangan untuk mengintervensi langsung kebijakan yang bersifat teknis, terkait operasional Makassar Mall. “Kita ini hanya sebagai wasit saja. Kesepakatannya tergantung PT MTIR dan para pedagang, yang jelas jika harganya telah mendekati kesepakatan atau sudah sepakat, tinggal mempersiapkan bagaimana masuknya,” ujar Danny.
Dengan demikian, Danny menganggap persoalan gonjang-ganjing penetapan harga lods bukanlah kewenangan pemerintah kota untuk memutuskan, namun lebih kepada memastikan kesiapan dan kelayakan gedung tersebut. “Beberapa waktu lalu pihak MTIR sudah menyampaikan kisaran harga yang tergantung letak dan ukuran kiosnya, jadi kalau masih negoisasi terus kapan bisa masuknya? Bisa jadi MTIR sudah siap memasukkan para pedagang, makanya para pedagang diminta segera melakukan pembayaran sesuai harga lokasi dan ukuran tersebut,” terangnya.
Sementara soal ukuran lods yang berukuran 1,5 x 1 meter yang dinilai tidak representatif, Danny mengatakan bahwa sebagai arsitek, dirinya menilai jika ukuran tersebut masih masuk standarisasi. Sebab, dari sejumlah pasar modern yang ada seperti di Pasar Tanah Abang, Jakarta ada ukuran kios seperti itu. “Saya sudah sampaikan sama para pedagang, sebenarnya bukan ukurannya yang harus jadi persoalan, akan tetapi omzetnya yang perlu. Biar besar-besar kalau tidak laku untuk apa?, nah laku atau tidaknya itu didasari sejauh mana kelayakan gedung ini. Meskipun besar tapi kalau di sini sesak, orang juga tidak mau masuk, bagaimana mau laku?,” beber Danny.
Sementara mengenai permasalahan jumlah pedagang yang dianggap tidak sesuai dengan jumlah lods yang tersedia, Danny memastikan semuanya dapat terakomodasi. Namun, dirinya tetap memprioritaskan para pedagang lama. “Pedagang di sana (pasar sentral) itukan bermacam-macam gradenya. Ada pedagang yang masuk perjanjian I, ada juga yang masuk adendum II, ada juga yang tidak masuk dalam perjanjian tersebut, tapi saya akan minta agar di masukkan semua, tapi harus dipahami juga derajat hukumnya (prioritas) berdasarkan perjanjian yang ada,” tegasnya.
Sebelumnya, General Manager (GM) PT MTIR Imran Bachtiar mengatakan pihaknya sudah siap sewaktu-waktu jika para pedagang sudah harus masuk menempati lods. “Tergantung dari pedagang ji, sudah bisa mi ditempati sewaktu-waktu,” ujarnya beberapa waktu lalu. (fajar)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

The Latest

To Top