Ada Aroma Penyimpangan di Rusunawa – KOLAKA POS

KOLAKA POS

SULSELBAR

Ada Aroma Penyimpangan di Rusunawa

ILustrasi

KOLAKAPOS, Makassar–Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) di Jalan Rajawali, Kelurahan Lette, Kecamatan Mariso, Kota Makassar sejatinya diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Tapi faktanya, ada indikasi dan aroma penyimpangan di tempat ini.
BKM datang ke rusunawa, Selasa (4/4). Pemandangannya cukup mencengangkan. Ada banyak mobil yang sengaja ditutup oleh pemiliknya. Kendaraan roda empat tersebut terparkir rapi di tempar parkir khusus yang telah diatapi. Sementara motor tak terhitung jumlahnya.
Sejatinya pula, rusunawa menjadi tanggung jawab Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah Kota Makassar. Namun dalam pengelolaannya, organisasi perangkat daerah (OPD) ini justru membentuk tim tersendiri. Terdiri dari tenaga keamanan, teknisi, kebersihan, dan administrasi. Mereka inilah yang mengelola secara keseluruhan rusunawa. Termasuk semua retribusi maupun biaya sewa kamar.
Pengelola rusunawa, Susan menyebutkan, di tempat ini terdapat 288 kamar. Semuanya telah terisi dengan 288 kepala keluarga. Setiap kamar memiliki ukuran yang sama.
Biaya sewanya dibedakan berdasarkan tempat di tiap lantainya setiap bulannya. Lantai satu Rp150 ribu. Lantai dua Rp125 ribu. Lantai tiga Rp100 ribu. Lantai empat Rp75 ribu.
Selain biaya sewa kamar, para penghuni juga diwajibkan membayar iuran listrik, air, sampah, dan lampu jalan. Setiap 1 KWH listrik para penghuni membayar Rp1.500. Untuk air, setiap 1 kubiknya sebesar Rp4.000. Sementara sampah sebesar Rp5.000 tiap bulannya. Iuran tersebut dihitung untuk setiap kamarnya.
Susan menambahkan, rata-rata pemakaian listrik setiap kamar dalam perbulannya sekitar 100 KWH. Namun untuk air, ia mengaku tidak tahu pasti. “Perbulannya tidak menentu. Tergantung pemakaian. Tapi biasanya rata-rata setiap kamar itu 100 KWH,” jelas Susan, kemarin.
Jika dikalkulasikan, maka pembayaran iuran listrik saja untuk setiap kamar berkisar Rp150 ribu.
Benarkah hanya sebesar itu? Tadah (61), salah seorang penghuni mengatakan, selama ini para penghuni membayar iuran listrik per bulannya sebesar Rp300 ribu. Bahkan pernah sampai Rp600 ribu.
Wanita yang telah tinggal selama 10 tahun di rusunawa inipun masih mengeluhkan listrik yang terkadang masih sering padam. Hal itu dipicu oleh kapasitas listrik yang ada tidak mencukupi untuk pemakaian seluruh penghuni.
“Kalau banyakmi kita nyalakan alat listrik, biasanya matimi. Kecilki memang dayanya. Baru mahal sekali biasa kita bayar. Kayak ndak masuk akal,” keluh Radah, kemarin.
Hal yang sama dikatakan penghuni lainnya Fitri (24). Ia mengeluhkan mahalnya iuran listrik. Bahkan tidak sebanding dengan fasilitas yang diterima. Padahal, di dalam kamarnya hanya ada beberapa barang elektronik. Seperti televisi, rice cooker dan kipas angin.
“Saya biasa tinggi kubayar. Kalau bukan Rp400 ribu, ya Rp500 ribu kubayar tiap bulan. Baru begitumi, seringki mati-mati listriknya,” cetus Fitri.
Untuk air, Radah dan Fitri biasanya membayar kisaran Rp100 ribusampai Rp200 ribu per bulan. Distribusi air di rusunawa ini juga memiliki beberapa kendala. Dalam sehari biasanya air hanya mengalir dua kali.
Bahkan dikatakan Radah, kerap tidak mengalir seharian. Kondisi ini membuatnya harus berhemat air, walaupun tiap bulan ia membayar iuran.
Kondisi ini membuat para penghuni seperti Radah dan Fitri membayar iuran hampir Rp1 juta tiap bulannya. Biaya yang dirasa cukup besar, memngingat Radah dan Fitri hanya berprofesi sebagai pedagang. Radah sebagai pedagang kerajinan, dan Fitri kerap berjualan di Pantai Losari.
Saat ini pengelolaan sampah di sana sudah baik. Setiap harinya mobil sampah milik pemerintah kota masuk ke rusunawa untuk mengambil sampah. Hal ini dikarenakan para penghuni di sana juga telah membayar iuran sampah perbulannya.
Radah pun membenarkan jika setiap harinya memang ada mobil yang terparkir. Kendaraan roda empat itu milik penghuni rumah. “Saya juga heran, katanya ini rumah untuk orang kurang mampu, tapi banyak penghuninya punya mobil. Apalagi kalau malam, penuhmi ini mobil di sini,” beber Radah.
Nur Samsiah atau yang akrab disapa Dg Nurung mengaku, beberapa tahun terakhir dirinya harus mempersiapkan dana sebesar Rp800 ribu setiap bulan. Dana tersebut digunakan untuk membayar listrik dan air yang sering naik secara mendadak.
“Di dalam rumah cuma TV, kulkas dan dua bohlam lampu yang berapa wattji. Harga kamarku saya di lantai satu Rp150 ribu. Biaya kebersihan setiap bulan untuk tahun ini naik Rp5.000. Ini listrik dan air biasa naik tiba-tiba, padahal jarangji saya pakai semua. Kalau khusus air biasa saya bayar Rp120 ribu. Tapi biasa naik Rp150.000 dan listrik kadang naik Rp300.000 sampai Rp400.000. Ini kita herankan, padahal saya jarang pakai. Paling malampi,” ujar Dg Nurung yang bersama keluarganya sudah lima tahun tinggal di rusunawa.
Bagi Nurung dan penghuni lainnya, biaya hidup di rusunawa sangatlah mencekik. Apalagi mereka yang tinggal di tempat ini mayoritas tidak memiliki pekerjaan jelas.
”Kita harapkan pegawai UPTD benar-benar memperhatikan baik-baik pemakaianya. Catatki baik-baik. Masa’ kamar yang jarang ditinggali tidur dicatat banyak pemakaian listrik dan airnya. Sedangkan kamar yang setiap hari menyala lampu dan airnya kurang biayanya. Kita tinggal disini karena murah, tapi ternyata lama-lama mahalji,” cetusnya.
Sebenarnya, kata dia, tidak adaji mungkin masalah kenaikan listrik tiba-tiba jika meteran listrik yang elektrik diaktifkan. ”Jadi kita tinggal beli pulsa dan kita sendirimi yang atur pemakaian listrikta. Tapi ini namatikanki meteran elektrik. Kita harus membayar listrik dan air di kantor UPTD. Biar kita sedikit pemakaianta, tetap dikasih mahalji, ” katanya.
Selain Dg Nurung, penghuni lainnya bernama Mer juga mengharapkan agar meteran listrik elektrik yang telah terpasang di masing-masing depan kamar diaktifkan. Sehingga pemakaian listrik dapat diatur pemilik kamar sesuai dengan kebutuhannya.
Sebab saat ini pembayaran listrik ke PLN dan air bersih ke PDAM Makassar masih induk, bersatu dengan nama industri.
“Jadi yang terhitung di PLN dan PDAM Makasaar itu berapa banyak pemakaian warga yang ada di dalam rusunawa. Bukan dengan hitungan berapa banyak pemakaian masing-masing warga. Karena kita bayar di UPTD, bukan langsung ke PLN dan PDAM,” jelasnya.
Dalam sebulan, Mer bersama satu anaknya menggunakan paling banyak 12 kubik air bersih. Satu kubik air bersih seharga Rp4.000. Berarti dia harus menyediakan iuaran sebesar Rp48.000 setiap bulan khusus untuk pembayaran air bersih. Karena tinggal di lantai satu, harga kamar yang disewa sebesar Rp150 ribu.
“Kalau air jarangji naik tiba-tiba. Yang sering itu listrik naik dari yang biasa kita bayar. Dulu saya pernah diminta Rp380.000 khusus listrik. Padahal sebelumnya itu cuma Rp120.000 ji saya bayar. Padahal tidak adaji perabotan tambahanku. Yang ada hanya TV, kulkas dan lampu. Kalau tidak dibayarki didendaki 30 persen dari total pembayaran keseluruhanta,” sebutnya. (bkm/fajar)

Click to comment

The Latest

To Top