Pertamina tak Akui Pertamini – KOLAKA POS

KOLAKA POS

SULSELBAR

Pertamina tak Akui Pertamini

KOLAKAPOS, Makassar–Dalam beberapa waktu terakhir, tempat penjualan eceran Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium bernama Pertamini kian marak. Disebut Pertamini, karena desain noiselnya mirip dengan yang dimiliki Sentra Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Fasilitas pengisian bahan bakar milik pribadi ini tidak saja dijumpai di Kota Makassar. Tapi juga di beberapa daerah di Sulsel. Saking boomingnya Pertamini ini, peralatannya diperjualbelikan secara online dengan harga kisaran Rp18 juta per unit.
Meski namanya Pertamini, ternyata penjualan eceran BBM ini tidak diakui Pertamina. Seperti disampaikan Hermansyah Y Nasroen, Manager Area Communication & Relations Pertamina Marketing Operation Region (MOR) VII Sulawesi.
Dihubungi di kantornya, Jumat (10/3), Hermansyah menegaskan, Pertamini bukanlah jalur distribusi atau lembaga penyalur resmi Pertamina. Karenanya, Pertamina keberatan dengan adanya Pertamini ini. Apalagi sampai mengasosiasikan Pertamina terkait branding yang digunakan Pertamini.
Pertamina mengimbau kepada masyarakat luas agar pembelian dilakukan di jalur distribusi resmi Pertamina, yaitu SPBU. Ini untuk mendapatkan bahan bakar dengan kualitas dan takaran yang terjamin, standar keamanan sesuai serta harga yang resmi.
”Kami belum tahu secara pasti bagaimana mereka bisa mendapatkan suplai pasokan BBM. Kami tidak punya wewenang, karena kami bukan badan atau lembaga yang mengeluarkan perizinan,” kata Hermansyah.
Tentang adanya sejumlah pengelola SPBU yang melayani pembelian oleh pengelola Pertamini dalam jumlah besar dengan menggunakan jerigen, Hermansyah mengatakan, pihaknya selalu mengimbau dan meminta untuk tidak melakukannya. Apalagi jika tidak dilengkapi surat rekomendasi sesuai ketentuan.
”Bagi pengelola SPBU yang terbukti melakukan pelanggaran terhadap ketentuan ini, Pertamina tentu akan memberi sanksi. Mulai dari peringatan sampai dengan skorsing atau pemutusan hubungan usaha. Pemberian sanksi tentunya melalui proses evaluasi terhadap kemungkinan kesalahan yang telah dilakukan,” tegasnya.
Ketua DPD VII Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Sulawesi Hasbidin, mengatakan keberadaan Pertamini ini ilegal. Karena Pertamina tidak pernah mengeluarkan izin untuk Pertamini.
Pertamini tersebut, menurut Hasbidin, sebenarnya pengecer yang sudah kreatif. BBM dibeli dari SPBU dengan menggunakan izin pembelian BBM yang dikeluarkan biasanya oleh desa atau camat yang sebenarnya peruntukannya pertanian dan perikanan.
”Kita sudah imbau SPBU untuk tidak melayani pengecer. Tapi yang jadi masalah, karena mereka membawa surat resmi untuk pembelian BBM peruntukan pertanian dan nelayan. Harusnya pemerintah daerah (pemda) yang menindaki. Karena yang mengeluarkan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) adalah Pemda,” terangnya.
Tentang adanya anggota Hiswana Migas yang mengelola Pertamini tersebut, Hasbidin dengan tegas membantahnya. Kata dia, ada anggotanya yang terlibat dalam pengelolaan Pertamini ini. Karena itu sebuah pelanggaran.
”Tolong kalau ada data anggota Hiswana Migas yang mengelola Pertamini diberikan kepada saya. Saya sikapi dan berikan tindakan tegas,” tandasnya.
Terpisah, Wakil Ketua Komisi D DPRD Makassar Andi Nurman berpendapat, Pertamini tidak jauh beda dengan kios bensin botolan. Untuk mendirikannya belum ada regulasi yang mengaturnya.
Meski begitu, dia meminta adanya pengawasan terhadap operasional Pertamini. Khususnya terkait akurasi alat takarnya. Apakah pengecer telah mendapat persetujuan dari Pertamina atau belum.
”Pengoperasiannya sangat rawan. Jadi mesti dipertanyakan, jangan sampai mereka beroperasi secara ilegal,” ujarnya di gedung DPRD Makassar, kemarin.
Legislator Fraksi Golkar ini menuturkan, ada aturan yang mengikat untuk pembelian BBM di atas 200 liter. Harus ada izin dari pihak terkait.
Sejauh ini, Nurman mengaku mendapat informasi bahwa pengelola Pertamini membeli BBM melalui SPBU. Bukan langsung dari Pertamina. (bkm/fajar)

Click to comment

The Latest

To Top