Dua Oknum PNS Patungan Beli Sabu – KOLAKA POS

KOLAKA POS

SULSELBAR

Dua Oknum PNS Patungan Beli Sabu

Narkoba Polres Palopo AKP Maulud saat berada di ruang penyidikan. Tampak para pelaku berusaha menutup wajah mereka. Inilah para pelaku dan barang bukti yang diamankan oleh Sat Res Narkoba Polres Palopo (Inzet). Gambar direkam Jumat 10 Maret 2017.

KOLAKAPOS, Palopo–Kelakuan dua oknum PNS ini sudah keterlaluan. Mereka harusnya jadi panutan di masyarakat, namun perbuatannya tak mencerminkan sebagai seorang abdi negara. Usai Jumatan, oknum PNS yang pernah jadi lurah bersama oknum PNS dari kantor Kelurahan Mawa asyik pesta narkoba. Dua oknum PNS ini patungan beli sabu-sabu.

Narkoba di lingkup Pegawai Negeri Sipil (PNS) sudah sedemikian parah. Buktinya, Sat Res Narkoba Polres Palopo berhasil menggiring tiga pelaku penyalahgunaan narkoba. Dua orang berstatus PNS. Seorang lagi merupakan karyawan Koperasi Nusantara.

Dua oknum PNS diciduk di rumah salah seorang terduga narkoba, tepatnya Jalan Ahmad Dahlan, depan terminal Dangerakko. Dua oknum PNS ini baru saja pesta sabu, Jumat 10 Maret 2017, kemarin, pukul 13:20 Wita. Saat digerebek, keduanya tidak bisa berbuat banyak. Mereka pasrah digelandang ke Mako Polres.
Oknum PNS yang dimaksud adalah Andi Makkawaru, 32 tahun, warga Jalan Ahmad Dahlan. Tersangka merupakan PNS pada UPTD Palopo yang satu atap kantor Samsat Kota Palopo. Andi Makkawaru merupakan mantan lurah di Kota Palopo. Dia juga pernah dihukum selama satu tahun lebih karena terlibat kasus narkoba. Itu sekitar tahun 2011.

Satu PNS lagi bernama Andi Aqsha. Pria berusia 37 tahun ini tinggal di Jalan Andi Bintang, Kelurahan Mawa, Kecamatan Sendana. Sehari-harinya bertugas sebagai pegawai Kelurahan di Mawa. Sementara itu, karyawan Koperasi Nusantara yang terlibat kasus narkoba diketahui bernama Irdan. Pria berusia 33 tahun ini tinggal di Jalan Andi Machulau, Kelurahan Batu Pasi, Kecamatan Wara.

Kasat Narkoba Polres Palopo, AKP Maulud, kepada Palopo Pos, mengatakan, awalnya, polisi menangkap Irdan. Itu sekitar pukul 12:30 Wita. Kala itu, Irdan yang mengendarai sepeda motor dicegat saat melintas di Durian dekat ruko BCA. Saat diperiksa, polisi menemukan 1 paket sabu-sabu di genggaman tangan kiri tersangka.
Ia diinterogasi. Irdan mengaku bahwa 1 paket sabu-sabu itu diperolehnya dari tersanga Andi Aqsha di rumah tersangka Andi Makkawaru, Jalan Ahmad Dahlan. Beberapa saat kemudian, petugas mengarah ke Jalan Ahmad Dahlan. Di rumah itu, polisi menemukan Andi Makkawaru dan tersangka Andi Aqsa.

“Mereka mengaku mengkonsumsi narkoba. Narkoba itu dibelinya dengan cara curung-curung. Hasil curung-curung itu kemudian ditransfer ke rekening pria bernama Nahar. Itu melalui bank BRI,” kata pengganti AKP Chris Manapa ini.
Tadinya, lanjut dia, tersangka Irdan mengambil sabu-sabu dari tersangka Aqsha. Hanya saja, saat menuju rumahnya, tersangka Irdan berhasil ditangkap oleh petugas.

Dari hasil pemeriksaan penyidik Sat Res Narkoba, tersangka Andi Makkawaru merupakan alumni Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) angkatan tahun 2006 lalu.

Sementara itu, Andi Makkawaru, mengaku mulai mengkonsumsi narkoba sejak tahun 2010. Sekitar tahun 2011 dia berurusan dengan hukum. Sejak itu, dia sempat berhenti mengkonsumsi narkoba. Hanya saja, di tahun 2015 hingga Jumat 10 Maret 2017 kemarin, dia kembali lagi menikmati barang haram ini.

BACA JUGA: BKD: Kalau Lengkap, Cukup Main Telepon
Hal yang sama juga dikemukakan Andi Aqsha. Dia mengaku menjadi pengguna sejak tahun 2010. Sedangkan tersangka Irdan, di tahun 2014 baru bergelut dengan narkoba hingga akhirnya ditangkap.

Barang bukti (BB) yang diamankan berupa 2 saset ukuran kecil berisi kristal bening, 1 unit handphone Nokia warna hitam disita dari tangan tersangka Irdan, 4 sachet kosong bekas tempat sabu, 1 korek api gas, 1 sumbuh terbuat dari almunium rokok, 1 unit handphone merek Mito warna hitam disita dari tersangka Andi Makkawaru, 1 bukti transferan atas nama Junarsi ke rekening atas nama Nahar. Dan 1 unit handphone merek Nokia warna putih disita dari tesangka Andi Aqsha.

“Tiga tersangka ini dijerat tiga pasal. Yakni Pasal 112, 114 dan 127 UU No 35 Tahun 2009. Ancaman hukumannya ada yang hingga maksimal 20 tahun penjara,” tandas AKP Maulud.(palopopos/fajar)

Click to comment

The Latest

To Top