Penumpang Kurang, Damri Merugi Operasikan BRT – KOLAKA POS

KOLAKA POS

SULSELBAR

Penumpang Kurang, Damri Merugi Operasikan BRT

Net/ILustrasi

KOLAKAPOS, Makassar–Bus Rapid Transit (BRT) Mamminasata merupakan salah satu program andalan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Selatan. Gubernur Syahrul Yasin Limpo optimistis kehadiran BRT bisa mengurai kemacetan yang kerap terjadi di Makassar, Maros, Sungguminasa hingga Takalar.
Namun apa faktanya? BRT sudah beroperasi, tapi macet tetap terjadi di mana-mana. Khususnya di Kota Makassar. Termasuk di wilayah perbatasan daerah terdekat, seperti Maros dan Gowa.
BRT yang sudah dilengkapi dengan banyak halte, ternyata belum dimanfaatkan secara optimal oleh warga kota. Kendaraan pribadi, baik roda empat maupun dua masih tetap menjadi primadona masyarakat dalam mendukung mobilitas dan aktivitas kesehariannya.
Kondisi inipun berdampak pada Perusahaan Umum (Perum) Damri yang mengoperasikan BRT. Perusahaan masih mengalami kerugian setiap bulannya.
Saat ini BRT beroperasi di tiga dari 11 koridor yang direncanakan. Tiga koridor itu masing-masing koridor II, III dan IV.
Koridor II beroperasi di jalur Mal GTC-Mal Panakkukang-Mal GTC. Koridor III dari Bandara-Terminal Palangga-Bandara. Sementara koridor IV dari Terminal Daya-Terminal Maros-Terminal Daya.
Misran Hakim, Bagian Operasi Perum Damri Cabang Makassar, mengakui jika sejauh ini pengelolaan BRT masih merugi. ”Kerugian per bulan bisa mencapai Rp30 juta,” ujarnya ketika ditemui di kantornya, Selasa (7/3).
Perum Damri sebenarnya telah memiliki 30 unit BRT yang beroperasi di tiga koridor tersebut. Setiap koridor masing-masing 10 unit. Hanya saja, semuanya beroperasi penuh setiap Sabtu dan Minggu. Sedangkan pada Senin sampai Jumat tidak bisa dioperasikan seluruhnya.
“Biasanya hanya enam yang dioperasikan kalau Senin sampai Jumat di setiap koridor. Kecuali koridor III, biasanya delapan sampai 10 unit,” kata Misran.
Langkah tersebut dilakukan, karena biaya operasional yang cukup tinggi. Sementara minat masyarakat untuk menggunakan BRT masih rendah.
”Mahasiswa juga belum gunakan BRT. Bagaimana mau dioperasikan semua setiap hari. Nanti tambah rugi besar,” cetus Misran.
Untuk biaya operasional setiap harinya per satu unit BRT, Perum Damri menghitung pengeluaran sebesar Rp500 ribu. Masing-masing untuk pembelian BBM jenis solar, penyusutan ban, oli dan sebagainya.
Belum lagi gaji yang mesti dibayarkan untuk setiap sopir dan kondektur BRT, masing-masing Rp1 juta per bulan. Ditambah honor yang diberikan kepada sopir sebesar 4 persen dari total pendapatan setiap hari. Untuk kondektur 3 persen setiap hari. Saat ini ada 30 orang sopir dan 30 orang kondektur.
Untung saja di Perum Damri menganut sistem subsidi silang. Jadi masih bisa saling menutupi.
Dari semua rute yang dilayani Damri, seperti jurusan Palu, angkutan bandara, Kota Parepare dan lainnya, disebutkan Misran, masih bisa menutupi. Hanay BRT yang merugi.
Bagaimana dengan kontribusi Pemprov Sulsel? Misran mengaku lumayan membantu. Selain menyediakan semua halte yang dibutuhkan BRT, pemprov juga membantu dengan memberikan subsidi ke Perum Damri.
Dalam waktu dekat, Perum Damri berencana membuka koridor baru. Yakni koridor VI, yang beroperasi hingga Takalar.
“Koridor VI yang sampai Takalar, sudah ada semuami haltenya. Tinggal tunggu selesainya pilkada. Mudah-mudahan dengan dibukanya koridor baru bisa sedikit menanggulangi kerugian,” ucap Misran.
Gubernur Syahrul Yasin Limpo mengakui jiga BRT sekarang ini belum berfungsi maksimal. Namun dia lega melihat rute dari mal ke mal yang cukup menggembirakan.
“BRT sekarang memang belum maksimal. Tapi saya cek seminggu lalu, rute yang dari mal ke mal cukup ramai, ” kata Syahrul.
Bahkan untuk menegaskan statemen itu, dia mengajak wartawan mencoba rute itu dalam beberapa hari mendatang. Ke depan dia tetap akan mengawal kehadiran BRT itu agar bisa berfungsi lebih maksimal bagi masyarakat.
Dia juga meminta stakeholder terkait untuk menerapkan strategi mumpuni agar masyarakat bisa semakin tertarik menggunakan BRT. Salah satunya, meramaikan rute Mamminasata yang sudah melayani masyarakat hingga ke Maros dan Gowa.
“BRT itu sudah sampai Takalar loh. Tapi memang belum banyak orang yang menggunakan,” jelasnya.
Salah satu persoalan yang dihadapi pihak Damri untuk memaksimalkan jangkauan layanan adalah kurangnya armada. Pusat sudah menjanjikan penambahan 30 unit armada. Namun sejauh ini belum terealisasi. Syahrul berjanji akan mengecek kepastian pusat kapan akan menyerahkan armada tambahan itu untuk Sulsel.
Kepala Dinas Perhubungan Sulsel Ilyas Iskandar, juga menyebutkan jika hingga saat ini pengoperasian BRT masih terbatas. Musababnya, armada yang ada masih kurang.
Pada dasarnya, kata Ilyas, Dinas Perhubungan akan memback up langkah Perum Damri untuk memperluas jangkauan pelayanan BRT. Karena itu, sejak tahun lalu, Dishub terus membangun halte BRT di tempat-tempat yang akan dilalui alat transportasi itu. Saat ini, Dishub sementara menggenjot pembangunan 63 halte untuk beberapa koridor yang akan dibuka.
Untuk penambahan armada, pihaknya sudah mengusulkan permintaan unit BRT baru di Kementerian Perhubungan (Kemenhub) . Dalam proposal yang diajukan, Dishub meminta 50 unit. Respon Kemenhub cukup baik. Namun belum mampu memenuhi seluruh permintaan Pemprov Sulsel.
“Kami sudah menyurat minta 50 unit BRT. Namun yang dijanjikan baru 30 unit. Realisasinya tinggal menunggu, ” kata Kadishub.
Ilyas menyebut, disiapkan anggaran sekitar Rp9,7 miliar untuk pembangunan 63 halte baru tersebut. Rencananya, halte yang akan dibangun jenis portable.
Tambahan halte itu akan dipasang pada tiga koridor yang sudah terlayani selama ini. Masing-masing di koridor II, III, dan IV.
Jika mencukupi, tambahan halte juga akan dipasang pada koridor V yang melayani rute Untia-Terminal Panampu-Jalan Tinumbu-Jalan Ujung-Jalan Bandang-Jalan Veteran Utara-Jalan Veteran Utara-Jalan Veteran Selatan-Jalan Sultan Alauddin-Jalan Gowa Raya-hingga Terminal Palangga. (bkm/fajar)

Click to comment

The Latest

To Top