Tahun 2017, PA Pangkep Terima 116 Kasus Gugatan Cerai – KOLAKA POS

KOLAKA POS

SULSELBAR

Tahun 2017, PA Pangkep Terima 116 Kasus Gugatan Cerai

Net/Ilustrasi

KOLAKAPOS, Pangkep–Kasus gugatan cerai yang telah terdaftar di kantor Pengadilan Agama Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) tercatat per Januari hingga Maret 2017, atau hanya 60 hari lebih telah mencapai angka 116 gugatan. Penyebab perceraian dengan alasan bervariasi, baik dari alasan perekonomian, percekcokan, dan juga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Usianya pun tebilang masih usia produktif antara usia 20 tahun hingga 40 tahun. Dari 116 gugatan, dua perkara gugatan tersebut ditolak. Selebihnya telah disidangkan dan diputuskan adanya perceraian.

Artinya dari 116 perkara gugatan pasangan suami istri (Pasutri) telah diputuskan 114 pasutri cerai. Hal itu disampaikan Panitera Pengadilan Agama Kabupaten Pangkep, Drs Amir Indara, saat ditemui di ruang kerjanya.
Selain itu, kata Amir Indra perkara gugatan cerai gaib juga ada sebanyak 3 gugatan. Gugatan cerai gaib dimaksud, adalah salah satu pasutri yang menggugat cerai pasangan, yang tidak diketahui keberadaan pasangannya. Mereka dianggap tidak memberi nafkah lahir batin, selama meninggalkan pasangan.”Tahun ini, data hingga Maret saat ini, ada tiga perkara gugatan gaib cerai, dimana ketiga perkara ini semuanya pihak istri yang menggugat, dikarenakan keberadaan suami tidak diketahui lagi, dan tidak pernah menafkahi keluarganya,” kata ustadz Amir, sapaan akrabnya. Ia menuturkan, sementara data di tahun lalu, perkara gugatan cerai mencapai angka 463 gugatan, 47 permohonan dispensasi nikah beserta isbat nikah. Dimana 463 perkara gugatan cerai tersebut, hanya satu gugatan pasutri yang dapat diselamatkan dan rujuk kembali. 90 persen dari angka 463 perkara gugatan cerai diputuskan cerai. “Dalam perkara gugatan cerai, ada tahap mediasi yang dilakukan hingga tiga kali, kemudian menarik kesimpulan dari tiap tahapan mediasi dan kemudian dimajukan ke persidangan,” ungkapnya.

Saat ditanyakan tentang upaya pihak Pengadilan Agama dalam menekan angka perceraian, Amir mengungkap,pihaknya hanya berupaya dalam tahap mediasi tersebut. Dimana tahap mediasi, ada yang mengambil keterangan alasan pasutri yang menggugat, dan kemudian diberi arahan oleh panitera untuk diupayakan rujuk kembali. Ia menjelaskan, untuk permohonan dispensasi nikah itu sendiri, seperti mereka yang tergolong usia dini yang akan melangsungkan nikah dengan alasan kesepakatan orang tua dan suatu hal mendesak. Sedangkan untuk permohonan isbat nikah itu sendiri, mereka (pasutri) yang telah nikah sah secara agama. Namun tidak memiliki buku nikah. Sementara itu, ibu satu anak inisial SA (32) warga asal Desa Taraweang, Kecamatan Labakkang di kantor Pengadilan Agama Kabupaten Pangkep, mengakui jika dirinya melakukan gugatan karena kurang lebih 4 tahun ditinggalkan suaminya merantau di luar daerah dan tidak pernah dinafkahi. “Sudah empat tahun, saya ditinggal sama suami, pergi merantau di Kalimantan, dan selama pergi merantau baru sekali saya dikirimkan uang. Itu pun waktu awal-awalnya pergi merantau, dan sampai saat ini kabarnya pun saya tidak tahu tidak bisami dihubungi nomornya,” katanya. (parepos/fajar)

Click to comment

The Latest

To Top