Judas Lobi Anggaran ke Pusat–Komisi II Pantau Jembatan di Km 9 Latuppa – KOLAKA POS

KOLAKA POS

SULSELBAR

Judas Lobi Anggaran ke Pusat–Komisi II Pantau Jembatan di Km 9 Latuppa

KOLAKAPOS, Palopo–Jembatan Latuppa sebagai akses penghubung antara Palopo dan Kabupaten Luwu dinyatakan sudah tidak bisa dilalui lagi. Sisa tunggu waktu saja jembatan yang ada di KM 9 akan roboh. Polres Palopo bahkan sudah memasang garis polisi di kedua ujung jembatan. Artinya tidak BOLEH dilewati.

Jembatan tersebut harus dibangun ulang. Cuma itu jalan keluarnya. Hanya saja, anggaran yang dibutuhkan cukup tinggi. Kurang lebih Rp4 miliar untuk pembangunannya. Di Pemkot Palopo anggaran sebanyak itu tidak ada. Padahal, jembatan tersebut merupakan akses masyarakat yang ada diseberang sungai menuju kota Palopo.

Untunglah, Wali Kota Palopo, HM Judas Amir cukup respon. Dua tiga hari ini, orang nomor satu di Kota Palopo akan ke Jakarta. Informasinya, wali kota akan mencoba meminta dana di Badan Penanggulangan Bencana Nasional sebanyak Rp4 miliar.

“Kami dari dinas PU diperintahkan oleh Pak Wali, kami diminta untuk membuat pra desain. Pra desain ini akan diusulkan ke Badan Penanggulangan Nasional,” kata Abd Haris dari Dinas PU dan Tata Ruang saat dimintai keterangannya oleh Palopo Pos.

Menurut dia, ada dua alternatif yang akan dilakukan. “Apakah akan kita pakai rangka baja atau yang lainnya. Dimana dalam hal ini, untuk jembatan Latuppa, diupayakan tidak ada penyangga di tengah,” sebutnya.

Panjang jembatan Latuppa 28 meter, dengan lebar 4,5 meter. Menurut Abd Haris, setelah dibangun ulang, kemungkinan besar lebarnya akan ditambah bisa sampai 8 meter. Demikian juga panjanganya. Mungkin ada penambahan hingga 30 meter.

Ia juga mengatakan, penyebab rusaknya jembatan diakibatkan air deras yang membuat bagian penyangga jembatan bergeser. “Makanya itu, untuk sementara jembatan ditutup. Bagi masyarakat yang ingin lewat bisa melalui jalur alternatif yang melewati Siguntu.

“Jembatan ini akan dibangun ulang. Pak Wali memerintahkan kami dari PU menyelesaikan pra desainnya. Kami usahakan dua hari ini bisa selesai. Dan bisa diajukan ke pusat untuk ditindaklanjuti berupa permintaan dana,” sebutnya.

Di hari yang sama, Senin 27 Februari 2017, rombongan Komisi II DPRD Kota Palopo dipimpin Ketua Komisi II, Steven Hamdani melakukan kunjungan ke Jembatan Latuppa. Disana dia dengan seksama memperhatikan kondisi jembatan. Mulai dari ujung, bagian atas jembatan hingga bagian bawah jembatan. Selain Steven, hadir juga anggota Komisi II, Misbahuddin, Herawati dan Hasriati. Ada juga perwakilan dari Bapeda, Dinas PU dan Tata Ruang, BPDB dan Kecamatan.

“Ada aspirasi dari masyarakat tentang adanya jembatan nyaris roboh di Latuppa. Makanya, kami dari Komisi II melakukan kunjungan. Tadi kami sudah melihat kondisi jembatan. Makanya kami memnaggil mitra kami dari Bapeda, PU dan BPBD untuk segera melakukan laporan. Kami berharap hasil laporan bisa segera ditindaklanjuti,” kata Steven.

Kata Steven, anggaran yang dibutuhkan untuk pembangunan tersebut cukup besar. “Saya dapat informasi dari teman-teman PU, kita butuh kurang lebih Rp4 miliar. Ini masih angka kasar. Berbicara mengenai angka Rp4 miliar ini, saya pikir hanya di pusat bisa kita dapatkan,” ujar Legislator Partai Golkar ini.

Lanjut dia lagi,”Saya dapat kabar dari teman-teman, katanya Pak Wali dengan itikad baik sudah melakukan progres cepat. Beliau akan melakukan kunjungan ke Jakarta untuk mencari dana taksis di Badan Penanggulangan Bencana Pusat senilai Rp4 miliar,” kata Steven lagi.

Langkah yang diambil wali kota, sangat diapresiasi oleh anggota DPRD. “Kami dari DPRD sangat mengapresiasi langkah yang diambil oleh wali kota yang langsung menindaklanjuti permasalahan jemabatan ini. Sehingga harapan kami, dalam waktu dekat, anggaran sudah ada dan bisa dikerjakan,” ucapnya.

Masalah yang ada sekarang, ucapnya lagi, karena jembatan ini menghubungkan antara Palopo dan Kabupaten Luwu. “Khususnya keluarga kita yang ada di Bastem melalui akses ini tiap hari. Makanya kita berharap agar jembatan ini bisa secepatnya dikerja. Laporan yang saya dapat, jembatan ini dibangun tahun 1983, dimana kita membutuhkan regenerasi dari jembatan kemudian saya pikir harus dibangun ulang,” tandasnya.

Di tempat yang sama, Kabid Kedaruratan BPBD Palopo, Bahri, mengatakan, jembatan tersebut dibagun tahun 1983. Dan selama dibangun, sudah dua kali rusak. Pertama di tahun 1993. Penyebabnya banjir. Namun oleh pemerintah saat itu, jembatan yang rusak diperbaiki. Lalu, tahun 2017 ini, bagian penyangga jembatan rusak lagi.

“Penyebabnya mungkin karena faktor usia. Mungkin daya tahannya. Karena sudah lama,” tandas mantan Kepala Desa Latuppa yang menjabat hampir 10 tahun.(palopopos/fajar)

Click to comment

The Latest

To Top