Program Smart Village Unilaki Dilirik Tiga Negara – Hacked by TryDee

Hacked by TryDee

Jazirah Sultra

Program Smart Village Unilaki Dilirik Tiga Negara

Wakil Rektor III, Anas Arifin S.Ag. MPd. Sitti Amina Razak Porosi, dan Prof. Dr. Laode Masihu Kamaluddin M.Sc,. M.Eng.FOTO:Husman/Kolaka Pos

KOLAKAPOS, Unaaha–Program terbaru Universitas Lakidende (Unilaki) tentang Smart Village, dengan konsep pembangunan pedesaan melalui agroindustri kini menunjukan nilai positif terhadap perkembangan kampus. Negara yang sudah melakukan kerjasama dengan Universitas Lakidende, yakni Korea Selatan.
Selain Korea Selatan, dua negara lainnyapun sudah ancang-ancang melakukan kerjasama. Rencananya, Jerman dan Kanada juga tertarik konsep smart village ini, hingga saat ini unversitas sudah membangun komunikasi antara negara tersebut. Dengan bekerja samanya antara negara dengan universitas, menandakan bahwa Universitas Lakidende merupakan satu-satunya perguruan tinggi di Sultra yang pertama kali lakukan kerjasama di bidang agroindustri antara negara asia dan eropa.
Yang menarik dari tiga negara ini, yakni universitas akan menyediakan bahan baku industri berupa cabai, tomat dan padi. Dipilihnya tiga tanaman jangka pendek ini karena konsep pertanianya melalui grand house, artinya setiap mahasiswa dan masyarakat pedesaan saat melakukan pertanian tanpa harus merasakan terik matahari yang sampai saat ini masih dilakukan, sementara peternakan sapi akan dikembangkan di lokasi lain.
Pengembangan pedesaan melalui Smart Village merupakan upaya Unilaki untuk memakmurkan masyarakat pedesaan di Konawe. Usaha ini dilakukan bekerjasama dengan Pemda untuk menciptakan kegiatan ekonomi mandiri masyarakat, dengan pemanfaatan sumber daya alam khususnya sumber daya agraris.
“Jadi kami coba menanam melalui konsep grand house, fokus pada 4 komoditas seperti cabe, tomat, padi dan sapi. Dari keempat komoditas ini dipastikan bisa mendorong setiap desa, untuk menghasilkan Rp7 juta perbulan untuk satu perkepala keluarga.
Kita mendesain melalui Teiple Helix Universitas Lakidende. Tanpa ada dorongan dari perguruan tinggi (Unilaki, red), desa tidak bisa makmur sendirian,” terang Rektor Unilaki Laode Masihu Kamaluddin.
Inti kerja sama 3 negara ini lanjut Kamaluddin, untuk mendukung program pertanian grand house melalui inovasi. Sebagai contoh, Korea Selatan merupakan negara dengan tingkat pertanian yang baik melalui berbagai inovasi pertanianya, untuk itu Korsel menginginkan inovasi yang mereka gunakan juga diterapkan di Indonesia, khususnua di wilayah Sulawesi Tenggara demikian dengan Jerman dan Kanada, untuk lahan sendiri Universitas sudah menyiapkan 100 hektar di wilayah kecamatan Abuki.
“Korea Selatan sudah menggelontorkan dana sebesar Rp1,5 milyar dan bantuan fisik pembangunan Grand House sebanyak tiga unit dan membackup kita melalui inovasi dan riset di lahan 100 hektar, demikian dengan lembaga pengkajian pengabdian masyarakat (LPPM). Jadi pengelolaan pertanian dan desa, mahasiswa akan ikut andil di dalamnya. Seperti Fakultas Pertanian paham pengelolaan pertanian yang baik, untuk administrasi desanya harus ditangani Fakultas Ilmu Administrasi, Kemudian FKIP untuk pendidikan luar sekolah mendorong semua desa itu agar bermental produksi bukan mental konsumtif seperti sekarang ini, kemudian Fakultas Ekonomi, mengembangkan menejeman desa, listrik desa, transportasi desa dan paking produk yang siap dipasarkan,” terangnya.
Dampak lebih dari program ini, universitas tidak akan tergantung pada bantuan ABPN dan ABPD, sebab konsep ini akan terus berkelanjutan dan sifatnya independan produktifitasnya.
“Kalau universitas membawa dana APBD dan APBN untuk pembangunan infrastruktur itu kan sifatnya stimulan hanya sementara, untuk tidak tergantung pada anggaran pemerintah jadi kami kembangkan produktifitas yang sifatnya independen. Yah, secara bisnis itu ada di perguruan tinggi, untuk mendorong itu caranya dengan menggunakan mahasiswa, 4 tahun kuliah, hanya 2 tahun saja berada di kampus, sesudah itu masuk lapangan mencari desa binaan, dan kita bisa mengevaluasi berapa musim panen dari ke empat komoditi unggulan, yang tahunan kan hanya sapi tapi setelahnya terus menerus dengan tanaman jangka pendek ini. Produktifitasnya akan disalurkan menjadi bahan baku industri, industri cabai, industri pengolahan saus cabai, saos tomat. Kalau padi bulog sudah tanda tangan dengan Unilaki untuk kerjasama, sebagai pembeli hasil kita, Sumber Daya Manusia (SDM) Sudah siap karena beberapa mahasiswa kita akan dikirim ke Korea Selatan,” beber mantan Rektor Unisula ini. (m4)

Click to comment

The Latest

To Top