Oknum Guru Honorer Jual Narkoba – KOLAKA POS

KOLAKA POS

HUKUM & KRIMINAL

Oknum Guru Honorer Jual Narkoba

KOLAKAPOS, Pekanbaru–Penyesalan memang selalu datang terlambat. Kini akibat ulah perbuatannya ingin menjual ratusan ekstasi di tempat hiburan malam, malah berujung di sel tahanan Polresta Pekanbaru.

Di halaman depan gedung Mapolresta Pekanbaru Al (31) tersangka pemilik narkotika jenis ekstasi tampak duduk bersila menutupi wajahnya. Menggunakan baju khas tahanan berwarna orange, tersangka mengaku dikibus pada saat ditangkap polisi.

Dalam ekspos itu tersangka didampingi oleh dua orang rekannya berinisial Hn (41) dan RA (34) beserta barang bukti ratusan ekstasi yang telah terbungkus, Selasa (21/2) siang lalu.

“Itu obat palsu, saya dikibus” kata Al saat dihampiri Riau Pos atas keterlibatannya. Para tersangka bandar ekstasi ini diamankan Tim Opsnal Staresnarkoba Polresta Pekanbaru, Senin (20/2) sekitar pukul 04.00 WIB di Perumahan Damai Langgeng, Tampan, Pekanbaru.

Dari tangan tersangka waktu itu petugas mendapatkan barang bukti 854 butir diduga ekstasi warna pink dan empat unit handphone serta sebilah sangkur.

Namun, tersangka AL mengaku, bahwa barang tersebut bukan miliknya dan hanya membantu mengantarkan kepada tersangka HN.

“Saya hanya disuruh bawa. Barangnya saya ambil dari Kaduik orang Aceh,” cerita Al yang didampingi dua rekannya.
AL mengaku, bahwa ia tidak saling kenal dengan HN. Hanya saja mengenali tersangka AR.

“ Saya memang tidak tahu barang itu. Saya dikibus. Sudahlah saya lagi banyak masalah,” ucap Al yang berusaha menghindar.

Sementara itu, dari pengakuan tersangka HN, bahwa narkotika jenis ektasi ini memang dipesan dari Aceh untuk diedarkan di Kota Pekanbaru.

Namun, barang tersebut belum sampai, keburuan ditangkap polisi. Sementara itu dari warga asal Aceh ini ditemukan petugas satu unit kartu anggota wartawan dengan tulisan Kolom. Namun tersangka mengaku, bahwa kartu tersebut ia peroleh dari teman nya dua bulan lalu.

“ Kartu pers dari teman saya. Saya tahu fungsi dan tidak pernah saya pakai,” jelas Hn.

Sementara itu tersangka AR ketika dihampiri hanya terus tertunduk dan terdiam, ia tidak banyak ingin bicara.

Sementara itu dari keterangan Kasat Resnarkoba Polresta Pekanbaru, Kompol Deddi Herman mengatakan, barang bukti diduga ektasi ini akan diedarkan para tersangka di tempat hiburan malam.

Namun, berkat kelihaian anggotanya berhasil menggagalkan peredaran narkotika dari tiga tersangka terserbut.

“Dari pengakuan tersangka Al, ia mengaku lagi banyak utang dan masalah sehingga ia nekad mencoba akan menjual narkotika diduga ektasi tersebut,” kata Deddi.

Menurut Deddi, pengakuan tersangka Hn kepada AL barang haram tersebut bisa dijual ke tempat hiburan malam. Bahkan, tersangka AL juga ingin menjadi orang kaya dan bebas dari utang dengan mencoba menjual barang tersebut.

Namun, apa hendak dikata, bukannya keberuntungan malah pada percobaan pertamannya, tersangka langsung digagalkan kepolisian dan berujung penjara.

“Al juga mengaku bahwa ini baru pertama kali mencoba. katanya dia mau kaya raya,” ujar Deddi.

Mirisnya lagi dari informasi yang dihimpun Riau Pos, bahwa tersangka AL merupakan seorang guru honorer bidang olah raga di salah satu sekolah di kampungnya, Siberuang, Kabupaten Kampar.

Hingga sejauh ini, kasus peredaran narkotika ini masih dalam pengembangan Satres Narkoba Polresta Pekanbaru. Karena masih ada dugaan tersangka lain yang terlibat.

Bahkan untuk memastikan ekstasi itu asli atau tidaknya, Satresnarkoba Polresta Pekanbaru akan melakukan uji labor.

“Kalau dari alat yang kami miliki memang barang bukti ini positif mengandung kadar narkoba,” ungkap Deddi.

Sementara itu Kapolresta Pekanbaru, Kombes Pol Susanto mengatakan bahwa estimasi barang bukti ektasi ini mencapai sekitar Rp1,8 miliar. Menurutnya, dengan digagalkan peredaran ekstasi ini, berarti telah menyelamatkan 750 anak muda dari bahaya narkoba.

Untuk satu butir ektasi, tersangka membeli dari Aceh dengan nilai Rp40 ribu satu butir. “ Kalau sudah sampai di Pekanbaru bisa dijual Rp200 ribu satu butir,” kata Susanto.

Lebih jauh diungkapkannya, dilihat dari barang bukti itu tidak menutup kemungkinan terdapat home industry. Namun, untuk mengetahui itu terlebih lagi dilakukan pendalaman dan pengembangan lebih lanjut.

“Saat ini belum bisa kami pastikan karena masih proses,” katanya.

Atas perbuatan para tersangka dijerat dengan Pasal 114 jo 112 UU nomor 35/2009 tentang Narkotika diancam penjara minimal 15 tahun dan maksimal seumur hidup.(riaupos)

Click to comment

The Latest

To Top