Pasokan Berimbang, Harga Jagung Stabil – KOLAKA POS

KOLAKA POS

EKOBIS

Pasokan Berimbang, Harga Jagung Stabil

Ilustrasi jagung. Foto: Radar Bolmong/JPNN

KOLAKAPOS, Gorontalo–Harga jagung di pengumpul yang tak stabil ternyata tidak terlalu berpengaruh terhadap harga di pasar Gorontalo. Berdasarkan pantauan di Shopping Center Limboto, harga jagung kering mencapai Rp 6 ribu per liter atau Rp 10 ribu per kilogram.

Sedangkan jagung muda iris dijual seharga Rp 10 ribu per liter atau Rp 15 ribu per kilogram.

Sementara itu, harga jagung muda manis Rp 10 ribu per kilogram.

Sedangkan harga beras jagung Rp 10 ribu per kilogram.

Di sisi lain, harga jagung pulo dipatok Rp 10 ribu per kilogram.

Salah satu pedagang Husin Mile mengatakan, pasokan jagung konsumsi di Kota Gorontalo maupun daerah sekitar masih lancar.

Menurutnya, pasokan di sejumlah pasar bukanlah jagung dari bibit unggul yang memang di khususkan untuk komoditas ekspor.
Pasokan itu adalah jagung lokal yang memang ditujukan untuk konsumsi warga.

“Harga jagung di pasar saat ini masih sangat stabil, pasokan juga sangat berimbang, tidak lebih, tidak juga kurang, soalnya pasokan yang masuk di sini langsung dari petani bukan melalui perantara pengumpul. Lagi pula jagung ini memang jagung konsumsi (lokal), bukan jagung bisi dua (pertanian),” ungkap Husin.

Saat ini, jagung Bisi Dua (pertanian) hanya dibanderol Rp 3200 per kilogram.

Nominal itu berbeda jauh dengan harga jagung lokal yang kini seharga Rp 9-10 per kilogram atau Rp 6 ribu per liter.

Menurut Husni, perbedaan itu karena jagung pertanian dan lokal mempunyai ciri serta kualitas yang berbeda.

Menurutnya, jagung lokal biasanya sangat baik untuk konsumsi manusia maupun hewan.

Sedangkan jagung produk ekspor tersebut hanya diperuntukan bagi produk luar dan tidak seenak jagung lokal bila dikonsumsi.

“Perbedaan harga tentunya punya alasan. Salah satunya itu dari segi rasa. Beda kualitas beda juga rasanya. Kalu jagung lokal enak dimakan, baik di campur nasi atau tidak. Tapi kalau jagung produksi pertanian, dari warnanya saja sudah kuning bukan oranye, seperti jagung lokal pada umumnya. Dari situ saja sudah diketahui, belum lagi rasanya, tentu sangat berbeda,” jelasnya. (jpnn)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

The Latest

To Top