Siapkan Insenerator untuk Kelola Limbah – KOLAKA POS

KOLAKA POS

SULSELBAR

Siapkan Insenerator untuk Kelola Limbah

ILustrasi

KOLAKAPOS, Makassar–DINAS Pengelolaan Lingkungan Hidup (PLH) Provinsi Sulsel tahun ini akan menyiapkan satu unit alat pengolah limbah medis atau insenerator yang bisa dimanfaatkan puskesmas maupun rumah sakit.
Khusus pengelolaan limbah B3 khususnya medis, Kepala Dinas PLH Sulsel, Andi Hasbi Nur membeberkan, menjadi fokus Dinas PLH Sulsel.
Meskipun seluruh rumah sakit di Sulsel telah memiliki insenerator, tapi mereka belum memahami aturan dalam menggunakannya. Sedangkan, puskesmas hampir semuanya belum memiliki insenerator. Karena itu, tahun ini Dinas PLH Sulsel akan mengadakan insenerator yang bisa dimanfaatkan daerah-daerah di Kawasan Mamminasata.
Dia menambahkan, sebenarnya banyak rumah sakit yang dapat bantuan insenerator dari Kementerian Kesehatan. Tapi, pihak rumah sakit tidak terlalu paham terkait aturannya. Misalnya, saat mengoperasikan suhunya minimal 800 derajat. Belum lagi biaya operasionalnya yang sangat tinggi. Padahal berdasarkan aturan, limbah medis harus dimusnahkan dalam waktu 2 x 24 jam, bebernya.
Hasbi melanjutkan, jumlah limbah medis yang dihasilkan baik puskesmas maupun rumah sakit bisa mencapai 10 ton per bulan. Selama ini, bagi puskesmas atau rumah sakit yang belum memiliki insenerator, mereka harus membayar Rp 35 ribu – Rp 45 ribu per kilogram ke pengumpul limbah medis.
“Pengadaan insenerator menggunakan dana sharing dengan pemerintah pusat, yang rencananya ditempatkan di Kawasan Industri Makassar. Kapasitasnya, bisa membakar limbah media sampai empat meter kubik per hari. Insenerator ini harganya yang paling murah sekitar Rp 1 miliar,” kata Hasbi.
Selain limbah medis, Dinas PLH Sulsel juga mengawasi secara ketat limbah perusahaan. Setiap tahun, ada program penilaian peringkat kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan yang dikembangkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup (KLH), untuk mendorong perusahaan meningkatkan pengelolaan lingkungannya.
“Saat penilaian, yang masuk kategori hitam, pasti pengelolaan limbahnya tidak jelas. Tahun lalu, ada empat perusahaan,” imbuhnya.
Tahun ini, Dinas PLH juga optimistis mencapai target Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) sesuai dengan yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Sulsel. Targetnya hingga tahun 2018, IKLH bisa mencapai 65,00 – 66,00.
Pada tahun 2013 hanya 63,00 – 63,67 dan di tahun 2018 ditargetkan hingga 65,00 – 66,00. IKLH tersebut diukur dari tiga aspek, yakni kualitas udara, air, dan luas tutupan hutan.
“Kami optimistis mencapai target ini, karena seluruh SKPD terlibat di dalamnya. Misalnya, di sektor transportasi yang mempengaruhi kualitas udara butuh dukungan Dinas Pekerjaan Umum. Terkait tutupan lahan, ada keterlibatan Dinas Kehutanan,” kata Hasbi.(bkm/fajar)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

The Latest

To Top