Kelonggaran Uang Muka Pancing Pembeli Rumah Pertama – Hacked by TryDee

Hacked by TryDee

EKOBIS

Kelonggaran Uang Muka Pancing Pembeli Rumah Pertama

Net/Ilustrasi

KOLAKA POS, Surabaya — Kebijakan Bank Indonesia melonggarkan uang muka untuk cicilan rumah pertama memancing minat pembeli rumah pertama.
Apalagi, kebutuhan rumah pertama masih tinggi.
Untuk memenuhi kebutuhan pembeli rumah pertama, developer mengembangkan proyek landed house di kawasan Surabaya Timur.
Salah satunya adalah Graha Agung Kencana Group yang membangun proyek Wisata Semanggi Surabaya di Wonorejo, Surabaya Timur.
CEO Graha Agung Kencana Group Nurhadi menyatakan, landed house masih memiliki pasar yang besar di tengah gencarnya tawaran proyek-proyek apartemen.
Alasannya, sebagian besar pembeli rumah pertama masih mengincar rumah tapak. Sementara itu, apartemen mayoritas dibeli investor sebagai rumah kedua dan seterusnya.
Pembeli rumah pertama umumnya memanfaatkan kredit perbankan untuk membeli rumah.
Berdasar pengalaman Nurhadi, hampir 90 persen pembeli rumah pertama menggunakan fasilitas kredit pemilikan rumah. Sisanya in house financing ke developer atau tunai.
Pemanfaatan kredit KPR juga meningkat sejalan dengan kebijakan pelonggaran loan to value (LTV).
Saat ini pembeli rumah pertama bisa menikmati uang muka 15 persen dari harga rumah.
”Secara harga, kami membidik segmen menengah yang daya belinya masih ada,” ujar Nurhadi.
Di segmen tersebut, pembeli tidak terlalu sensitif dengan suku bunga. Tren penurunan suku bunga kredit dinilai tidak terlalu memengaruhi pembeli. ”Pembeli biasanya mencari bank yang bisa memberikan plafon pinjaman maksimal,” katanya.
Total lahan proyek Wisata Semanggi Surabaya mencapai 20 hektare. Di antara jumlah itu, baru 8 hektare yang dibangun. Cluster pertama sudah terjual 215 unit. ”Untuk sisanya 128 unit, kami bekerja sama dengan agen properti untuk penjualannya. Kami optimistis, pada akhir tahun bisa terjual habis,” urainya.
Setelah cluster pertama terjual habis, pihaknya akan menyiapkan pemasaran 247 unit di cluster tahap dua.
Di wilayah tersebut, dua proyek dengan luas masing-masing 15 hektare dan 8 hektare sudah dikembangkan.
”Kami masih memiliki land bank seluas 50 hektare untuk pengembangan 5–7 tahun ke depan. Sejalan dengan bertambahnya proyek high-rise, kami tidak tertutup kemungkinan akan mengembangkan hunian vertikal,” terangnya.
Menurut Nurhadi, perlu momen yang tepat sebelum memulai mengembangkan apartemen di Surabaya Timur. Dia optimistis, permintaan properti ke depan terus meningkat.
”Sekarang saja peningkatannya sudah mulai terasa karena kebutuhan rumah akan terus ada,” ujarnya. (res/c21/noe/jos/jpnn)

Click to comment

The Latest

To Top