44 Persen Terinfeksi HIV-AIDS dari Jarum Suntik – Hacked by TryDee

Hacked by TryDee

Ragam

44 Persen Terinfeksi HIV-AIDS dari Jarum Suntik

Net/Ilustrasi

KOLAKA POS, PARE–Penyebaran virus Human Immunodeficiency Virus-Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV-AIDS) di kawasan Ajatappareng dan sekitarnya mengkhawatirkan. Data dihimpun menyebutkan, angka penderita HIV-AIDS di Ajatappareng sudah mencapai ratusan orang. Terbanyak di Parepare mencapai 302 orang, menyusul Sidrap 71 orang, dan daerah lainnya puluhan. Yang mengejutkan, ternyata mereka yang terinfeksi HIV-AIDS ini didominasi oleh pengguna narkoba. Mereka terinfeksi saat menggunakan jarum suntik saat mengonsumsi narkotika. Jumlahnya mencapai 44 persen dari keseluruhan penderita. Hal ini diungkap Ketua LSM Peduli HIV-AIDS Mustadafin (FPM), Muh Ahlan saat berbicara tentang HIV-AIDS di Sidrap, kemarin. Dia mengungkapkan, penyebaran HIV-AIDS khususnya di Sidrap, cukup mengkhawatirkan. Dalam lima tahun terakhir, sedikitnya 71 orang diklaim sudah terinfeksi penyakit mematikan itu.
“Ini yang perlu menjadi perhatian kita bersama. Karena dari fakta yang ada bisa disimpulkan bahwa penyalahgunaan narkoba berpengaruh cukup besar dalam penularan HIV-AIDS,” kata Ahlan dalam workshop yang digelar Badan Kesbang Sidrap, di Wisma Trimurti, Pangkajene, kemarin.
Menurut dia, faktor risiko utama penyebab tingginya HIV-AIDS disebabkan karena perilaku seks bebas. Itu dengan persentase sebesar 55 persen. Sisanya, 0,2 persen karena penularan dari ibu ke anak.
Kaurbin Ops Satnarkoba Polres Sidrap, Aiptu Jhony Mamisa mengungkapkan hal sama. Menurut dia, penyalahgunaan narkoba sejak satu tahun terakhir ini cukup tinggi. Utamanya kata dia, pengguna narkoba jenis sabu-sabu.
Jhony mengungkapkan, penyalahgunaan narkoba di Sidrap mulai Januari hingga November 2016, lebih banyak melibatkan usia remaja dan dewasa produktif, yakni antara 26 hingga 35 tahun. “Kalau berdasarkan kelompok umur, usia antara 26 hingga 35 tahun, melibatkan sedikitnya, 63 orang. Sisanya, usia 16 hingga 25 tahun, serta usia antara 36 hingga 45 tahun, serta usia 46 ke atas,” beber Jhony.
Dalam kurun setahun terakhir, kata dia, Satnarkoba Polres Sidrap juga telah menyita narkoba jenis sabu-sabu sebanyak 751.4300 gram, dengan jumlah tersangka 147 orang. “143 tersangka laki-laki, dan 4 tersangka perempuan,” beber Jhony.
Di Parepare, kasus HIV-Aids terbilang tinggi. Data dari Perhimpunan Konselor AIDS (PKVHI) Parepare, menyebutkan penderita HIV-AIDS di kota ini sudah mencapai 302 orang.
Ketua PKVHI Parepare Abd Risal SKep Ns mengungkapkan, angka 302 penderita ini sesuai data hingga September 2016.
“Makanya kami gencar mensosialisasikan tentang bahaya AIDS, dan bagaimana cara mengurangi tingkat kematian,” kata perawat teladan tingkat Provinsi Sulsel ini.
Komunitas Peduli Sehat Kota Parepare Ayu Dwi Putri Rusman, SKM MPH secara terpisah mengatakan, masyarakat harus sadar tentang bahaya AIDS, dan juga bisa mengetahui tentang gejala dan cara pencegahan dini HIV-AIDS.
“Dengan ini kami berharap masyarakat bisa sadar tentang bahaya AIDS dan masyarakat juga tahu bagaimana HIV-AIDS menular serta cara mencegahnya,” papar Ayu Dwi.
Di Pinrang, Komisi Penanggulangan HIV-Aids (KPA) Pinrang mencatat puluhan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di daerah itu terinfeksi HIV-AIDS. Sekretaris KPA Pinrang M Rusli Nonci mengatakan, puluhan PNS itu sudah terjangkit virus HIV-AIDS.
Menurut dia, PNS yang mengidap penyakit mematikan itu bersumber dari jarum suntik dan hubungan seks. “Bisa saja bila melakukan kunjungan ke daerah lain berangkat membawa SPPD, tapi pulang bawa penyakit,” bebernya.
Angka itu menurut dia, bisa saja bertambah, sebab kebanyakan penderita penyakit ini memeriksakan diri di daerah lain. “Mungkin karena malu melakukan VCT di rumah sakit yang ada di Pinrang, jika menderita Aids,” katanya.
Sementara di Maros, KPA setempat mengungkapkan bahwa jumlah penderita HIV-AIDS mencapai 72 orang. Ketua KPA Maros, Yanas Pabokori mengatakan, jumlah itu didominasi di ibukota kabupaten, dan kecamatan di sekitarnya, khususnya yang berbatasan dengan Makassar. Itu karena dipicu dengan perilaku manusia yang hidup berganti-ganti pasangan.
“Perkembangan kasus HIV-AIDS dari tahun lalu meningkat secara signifikan. Tahun lalu jumlah penderita HIV-AIDS hanya sekitar 65 orang. Namun perkembangan hari membuat jumlahnya semakin meningkat menjadi 72. Dari jumlah itu, penderita HIV sebanyak 39 kasus, sementara AIDS sebanyak 33 kasus,” bebernya.
Yanas menilai, dengan adanya peningkatan status ini, Maros dianggap darurat HIV-AIDS. Apalagi lokasi Maros dekat dengan Kota Makassar. Lokasi yang dekat itu, diduga menjadi pemicu bertambahnya penderita HIV-AIDS.
“Saat ini Kabupaten Maros berada di urutan ke 10 di Sulsel dengan jumlah penderita 72 orang. Perkembangan kasus HIV berdasarkan golongan umur didominasi oleh usia produktif dengan persentase usia 15-25 tahun,” ungkapnya.
Dia menambahkan, perkembangan kasus HIV-AIDS berdasarkan jenis kelamin dikalkulasi persentasenya hampir sama.
“Umumnya usia penderita HIV-AIDS berusia antara 15-25 tahun. Itu karena usia tersebut memang rentan dengan pergaulan bebas yang identik dengan narkoba. Narkoba dan HIV-AIDS merupakan suatu kasus yang saling berkaitan karena rata-rata pengidap HIV-AIDS mengaku pernah mencoba narkoba. Faktor lingkungan juga menjadi penentu penyebaran HIV-AIDS,” tandasnya. (parepos/fajar)

Click to comment

The Latest

To Top