Tren Properti Bergeser, Menengah ke Bawah Jadi Primadona – Hacked by TryDee

Hacked by TryDee

EKOBIS

Tren Properti Bergeser, Menengah ke Bawah Jadi Primadona

Net/Ilustrasi

KOLAKAPOS, Surabaya–Pengembang antusias menawarkan proyek-proyek properti di luar kota kepada warga Surabaya. Pasalnya, animo masyarakat Surabaya untuk berinvestasi properti di luar kota cukup tinggi. Berdasar survei Ciputra Residence, sekitar 20 persen pembeli properti merupakan warga luar kota lokasi proyek. Dari jumlah pembeli luar kota, separunya adalah warga Surabaya.

’’Kami optimistis, cluster yang kami luncurkan diminati pembeli luar kota, termasuk dari Surabaya,’’ kata General Marketing PT Ciputra Residence Yance Onggo di sela product knowledge dan customer gathering CitraRaya dan Citra Maja Raya.

Kedua proyek berlokasi di Banten. Menurut Yance, pengembangan kawasan di Jabodetabek kini sudah bergeser ke arah Tangerang.

Karena itu, Ciputra mengembangkan CitraRaya Tangerang seluas 2.760 hektare dan Citra Maja Raya seluas 2.000 hektare.

’’Keduanya termasuk kota mandiri karena sudah ditunjang infrastruktur jalan dan kereta menuju Jakarta,’’ tuturnya.

Di CitraRaya, Ciputra Residence mengembangkan apartemen low-rise dengan menggandeng Mitsui Fudosan Residential.

Pada tahap pertama, akan dibangun empat tower sebanyak 1.000 unit.

Di Maja Raya, Ciputra Residence membuka cluster baru seluas 300 hektare yang terbagi atas 12 ribu unit rumah dan 500 unit rumah toko (ruko).

Semua membidik segmen menengah ke bawah. ’’Kami membidik pembeli dengan pendapatan Rp 5 juta hingga Rp 15 juta per bulan,’’ jelasnya.

Yance menilai, segmen pembeli dengan rentang pendapatan tersebut mampu membeli properti yang ditawarkan.

Kebutuhan berinvestasi di segmen itu juga tinggi. Apalagi, tren investasi properti kini bergeser ke segmen menengah ke bawah karena tingkat kebutuhan perumahan di segmen tersebut masih besar.

Karena itu, tingkat ketersewaan sangat tinggi. ’’Capital gain dan yield setiap tahun sudah bisa diperhitungkan,’’ terangnya.

Menurut Yance, di segmen menengah ke bawah, pembelian dengan memanfaatkan kredit perbankan mencapai 70 persen.

Karena itu, penurunan suku bunga kredit KPR hingga single-digit diyakini mengerek penjualan.

’’Begitu pula relaksasi aturan Bank Indonesia mengenai loan to value dan KPR rumah kedua boleh inden tentu bisa mendongkrak sektor properti,’’ ujar Yance. (res/c14/noe/jos/jpnn)

Click to comment

The Latest

To Top