Sulsel Genjot Pembangunan Empat Bendungan – Hacked by TryDee

Hacked by TryDee

SULSELBAR

Sulsel Genjot Pembangunan Empat Bendungan

Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, saat melakukan peninjauan ke Bendungan Passeloreng Kabupaten Wajo beberapa waktu lalu.

Percepat Terwujudnya Kedaulatan Pangan Nasional

KOLAKAPOS, Makassar–Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Selatan (Sulsel) sedang berupaya menggenjot pembangunan empat bendungan atau dam. Bendungan Kareloe di Kabupaten Jeneponto, Bendungan Passelorang di Kabupaten Wajo, Bendung Baliase di Kabupaten Luwu Utara, dan Bendungan Pammukkulu di Kabupaten Takalar. Tujuannya, untuk mempercepat terwujudnya kedaulatan pangan nasional.
Provinsi Sulsel dikenal sebagai daerah penghasil beras terbesar di Luar Pulau Jawa. Bahkan selama hampir 10 tahun, Provinsi Sulsel selalu mampu memenuhi target surplus beras di atas dua juta ton dan berkontribusi terhadap 20 persen stok nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, pada tahun 2015 lalu, produksi padi di Provinsi Sulsel sebesar 5,47 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Terdiri dari 5,29 juta ton padi sawah dan 0,18 juta ton padi ladang. Surplus beras Sulsel pada tahun 2015 mencapai 2,24 juta ton, dari yang ditargetkan 3 juta ton berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Sulsel 2013-2018.
Pencapaian tersebut tentunya akan lebih maksimal jika didukung infrastruktur pengairan yang memadai. Pembangunan empat dam besar di Sulsel diyakini mampu meningkatkan produksi pangan, khususnya beras, sehingga bisa berkontribusi lebih besar lagi dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional.
Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan, bendungan dan irigasi adalah kebutuhan mutlak bagi Sulsel, sebagai wilayah berbasis pertanian dan penyangga pangan nasional. Apalagi, posisi Sulsel saat ini sebagai penyuplai beras bagi 22 provinsi di Indonesia.
“Untuk mengoptimalkan produksi padi di wilayah ini, kami tengah membangun empat bendungan besar, yaitu Bendungan Kareloe, Baliase, Passelorang, dan Pammukkulu. Kami menjanjikan pemenuhan kebutuhan beras nasional, karena itu harus mempersiapkan dam dan irigasi yang baik,” kata Syahrul, Sabtu (19/11).
Syahrul pun berharap, pemotongan anggaran yang dilakukan pemerintah pusat, tidak menyentuh program-program strategis, khususnya pembangunan empat dam tersebut.
Sebelumnya, Kepala Balai Besar Pompengan Jeneberang, Agus Setiawan, memaparkan progres pembangunan empat dam tersebut. Ia menyebut, pembangunan masih terus berjalan, meskipun beberapa diantaranya masih bermasalah pada pembebasan lahan, seperti Bendungan Paseloreng dan Kareloe.
Bendungan Paseloreng, misalnya. Agus mengungkapkan, pihaknya telah menyelesaikan dua terowongan untuk tembusan. Sedangkan untuk pembangunan Bendungan Karalloe, pihaknya masih memproses pembebasan lahan dengan melakukan langkah konsinyasi dan menitip uang pembebasan lahan ke pengadilan. Saat ini, sudah 50 persen lahan yang dibebaskan dari kebutuhan lahan sekitar 215 hektare. Masih tersisa 50 persen lagi lahan yang harus dibebaskan.
“Untuk Bendung Baliase di Luwu Utara, progres pembangunan fisiknya saat ini sudah mencapai 26 persen. Tahun depan, kami akan kembali melanjutkan pembangunan,” jelasnya.
Agus menambahkan, Balai Besar Pompengan juga telah menyetor semua program kepada pemerintah pusat. Namun yang paling siap untuk dimulai tahun 2017 mendatang adalah Bendungan Pammukkulu di Kabupaten Takalar.
Sementara, Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Sulsel, Andi Darmawan Bintang, menjelaskan, Bendungan Kareloe akan mengairi areal sawah warga sekitar 7.000 hektare. Selain itu, dapat dijadikan pembangkit listrik tenaga hidro power. Pembangunan Bendungan Kareloe akan menghabiskan anggaran sekitar Rp 400 miliar yang berasal dari APBN.
“Khusus Bendungan Baliase di Luwu Utara akan mampu mengaliri 21 ribu hektare persawahan warga,” ungkapnya.
Andi Darmawan menambahkan, Bendungan Passeloreng yang berlokasi di Kabupaten Wajo, dapat menyediakan air yang mengaliri irigasi untuk mengairi sedikitnya 7.000 hektare area pertanian. Manfaat lain bendungan ini adalah untuk penyediaan air baku hingga 305 meter kubik per detik dan menjadi sumber energi penggerak pembangkit listrik dengan kapasitas mencapai 2,5 MW. (fmc)

Click to comment

The Latest

To Top