Perbankan Sulit Agresif, Kredit Susah Tembus Double Digit – Hacked by TryDee

Hacked by TryDee

EKOBIS

Perbankan Sulit Agresif, Kredit Susah Tembus Double Digit

Net/Ilustrasi

KOLAKAPOS, Jakarta–Meski pertumbuhan ekonomi melambat di angka 5,02 persen, perbankan melihat efeknya positif terhadap sektor riil. Tak heran, perbankan merespons positif rilis pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2016.

CEO Citi Indonesia Batara Sianturi menyatakan, pertumbuhan ekonomi di kisaran lima persen membuat UMKM dan korporasi besar tetap optimistis. ’’Nanti berimbas ke perbankan. Misalnya, dari sisi pembiayaan,’’ katanya kemarin.

Karena sentimennya masih lemah, Batara menilai industri perbankan sulit agresif. Pertumbuhan kredit diperkirakan masih single-digit tahun ini.

Batara berharap program amnesti pajak mampu menjadi booster pertumbuhan kredit.

’’Sudah banyak dana tebusan dan repatriasi yang masuk. Kalau sektor riil bergerak setelah itu, tentu bank ikut tumbuh, baik dari sisi DPK (dana pihak ketiga, Red) maupun kredit,’’ ujar Batara.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebutkan, pertumbuhan kredit hingga September lalu masih 6,4 persen atau di bawah harapan.
Hingga akhir tahun, BI menargetkan pertumbuhan kredit mencapai 9–11 persen. Namun, melihat tren yang terjadi sekarang, tampaknya pertumbuhan kredit hanya 7–9 persen.

’’Sampai akhir tahun memang kelihatannya akan lebih rendah,’’ ungkapnya.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman Darmansyah Hadad menilai, industri keuangan harus bekerja keras untuk merealisasikan target-target pada awal tahun.

Apalagi, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada 2018 sebesar enam persen.

Mulia berharap, perbankan dapat berfokus menekan angka kredit macet.

’’Pertumbuhan ekonomi masih belum terlalu fantastis. Tapi, tren positif sudah mulai kelihatan. NPL (non-performing loan, Red) turun, sedangkan kredit naik. (Sektornya) hampir merata, terutama di ritel,’’ terangnya. (rin/c20/noe/jos/jpnn)

Click to comment

The Latest

To Top