Pengusaha Ritel Optimistis Tetap Bertahan – Hacked by TryDee

Hacked by TryDee

EKOBIS

Pengusaha Ritel Optimistis Tetap Bertahan

KOLAKAPOS, Jakarta–Makin maraknya bisnis online berpengaruh besar pada bisnis offline. Meski pengaruhnya masih sekitar 20 persen, tapi para pengusaha ritel mulai melirik bisnis online dengan tetap mempertahankan offline.

?Ken Dean Lawadinata, perintis Kaskus mengungkapkan, bidang pemasaran tidak pernah berhenti berevolusi dan berinovasi mengikuti gaya hidup. Ketika orang beramai-ramai dengan teknologi digital, marketing online hadir juga di sana. Namun masyarakat masih lebih percaya berbelanja offline karena “seeing is believing”.
“Orang belanja online? hanya untuk produk tertentu saja, misalnya air mineral atau kebutuhan harian yang sudah jelas. Sedangkan untuk makanan, baju, dan barang-barang mahal orang masih mengunjungi mal karena mereka bisa merasakan, memegang, melihat, dan tawar menawar,” kata Ken dalam diskusi media dengan tema Bisnis Offline Vs Bisnis Online di Indonesia, Sabtu (5/11).
Menurutnya, meski digempur bisnis online, pengusaha ritel tetap bisa bertahan. Caranya, dengan terus melakukan berbagai inovasi. Di samping mencari lokasi strategis. Dia memprediksikan, mal-mal yang berada di lokasi tidak strategis bakal gulung tikar bila inovasinya kurang.
“Yang harus dihindari adalah bisnis online dan offline jangan sampai melakukan kanibalisasi. Akan lebih baik bila dua bisnis ini dijalankan bersama seperti yang dilakukan Agung Podomo,” ujarnya.
Ditambahkan? Ho Mely Surjani, AVP Marketing TM APL, pihaknya tahun depan akan menjalankan bisnis online dengan tetap mempertahankan offline. Superblok yang ditawarkan sangat menguntungkan pembeli.
“Pembeli yang membeli blok kami, bisa bisnis online maupun offline. Yang sudah menjalankan bisnis online, bisa offline juga,” terangnya.
Mely menyebutkan, agar bisa bertahan, setiap superblok yang ditawarkan dilengkapi berbagai fasilitas seperti mal, pusat perbelanjaan, apartemen, restoran, dan lainnya.
“Kami tetap membangun mal maupun pusat perbelanjaan karena tidak semua orang senang dengan belanja online. Mereka butuh lifestyle, butuh makan sehabis belanja. Itu adanya di mal, makanya kami mengembangkan superblok lengkap offline-online,” tandasnya. (esy/jpnn)

Click to comment

The Latest

To Top