Holding BUMN Harus Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi – KOLAKA POS

KOLAKA POS

EKOBIS

Holding BUMN Harus Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

KOLAKAPOS, Jakarta–Dua tahun Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla berjalan, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sudah disuntik modal negara sebesar Rp 115 triliun. Investasi yang digelontorkan pemerintah ini harus menghasilkan dan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi nasional.

Pernyataan tersebut disam­paikan Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam Konferensi Pers Dua Tahun Pemerintahan Jokowi-JK di kantor Kepala Staf Presiden (KSP) di Jakarta, kemarin. Dalam acara ini juga dihadiri Menteri BUMN Rini Soemarno.

“Selain anggaran infrastruktur, belanja modal yang besar dari pe­merintah adalah PMN ke BUMN. Di Undang-undang APBN 2015 dan 2016, jumlah PMN sekitar Rp 115 triliun,” kata Sri Mulyani.

Menurutnya, investasi pemer­intah ke perusahaan pelat merah tersebut harus mampu meng­hasilkan dampak positif. BUMN seperti diketahui merupakan agen pembangunan diharapkan dapat berkontribusi dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional.

“Investasi (PMN) ini harus dan akan menghasilkan. Se­sudah dapatkan PMN, BUMN ekspansi dan bisa menjadi sum­ber pertumbuhan ekonomi. Hal ini bisa dijelaskan Menteri BUMN,” katanya.

Ke depan, lanjut dia, Pemerin­tah akan mengukur kemampuan BUMN dalam berkontribusi kepada negara. Kontribusi itu baik bisa berupa penyediaan infrastruktur maupun menyetor dividen kepada negara.

Menurut Sri Mulyani, pada 2017 PMN untuk BUMN ju­ga bakal dihapuskan. Namun, mengingat besarnya PMN yang selama ini telah diterima, maka BUMN wajib berperan dalam memberantas kemiskinan di In­donesia. “Untuk 2017 PMN akan disetop, kita akan menjaga APBN kita menjadi instrumen fiskal yang mendorong pertumbuhan ekonomi, lebih dimanfaatkan untuk kurangi kesenjangan dan atasi kemiskinan,” tegasnya.

Sri Mulyani menjelaskan, ekonomi global diprediksi tum­buh negatif atau jauh lebih rendah dibanding proyeksi sebelumnya. Kondisi tersebut mempengaruhi ekonomi Indonesia karena terjadi pelemahan harga komoditas per­tambangan dan perkebunan. “Di saat ekspor tidak dapat diandal­kan, konsumsi dan investasi san­gat penting sebagai sumber per­tumbuhan ekonomi nasional.”

Menteri BUMN Rini Soe­marno menambahkan, jika tahun depan tidak lagi mendapat PMN, BUMN harus bisa optimalisasi­kan manfaat dari penggabungan (holding) BUMN.

“BUMN bisa manfaatkan holding untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Holding bisa mendorong capex (capital expenditure), atau belanja modal yang lebih tinggi, mengingat kebutuhan in­frastruktur masih besar,” katanya.

Di antara pembangunan in­frastruktur yang menjadi fokus perusahaan-perusahaan BUMN, sambung Rini, adalah infrastruk­tur yang terkait dengan konek­tivitas. Contohnya saja, pemban­gunan infrastruktur Light Rapid Transit (Kereta Ringan), jalur rel kereta Api baru, bandara hingga pelabuhan-pelabuhan.

BUMN dengan konsep holding, diyakini Rini, juga memiliki kekua­tan modal yang kuat, sehingga bisa saling mengisi dan melengkapi kekurangan. Jadi nanti di holding company bisa pinjam, dan perusa­haan di bawahnya bisa mengem­bangkan usahanya. Memang itu yang kami harapkan,” ujarnya.

Meskipun terlihat belum ada progres yang cepat, Rini masih yakin, pembentukan hold­ing BUMN dapat terealisasi pada akhir tahun ini. “Pembentukan holding memang sedang berjalan dan diharapkan akhir tahun bisa sukses,” tutup Rini. (rmol.com)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

The Latest

To Top