BPBD Siaga Darurat Bencana – KOLAKA POS

KOLAKA POS

SULSELBAR

BPBD Siaga Darurat Bencana

KOLAKAPOS, Palopo–Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi curah hujan di Sulsel, khususnya di Luwu Raya puncaknya, Selasa 25 Oktober 2016. Namun, BMKG seminggu ke depan akan terus memantau perubahan cuaca yang masih ekstrim. Sementara itu, BPBD Palopo masih tetap siaga darurat bencana.

Banjir berangsur-angsur mulai surut. Para warga sudah kembali ke rumah masing-masing. Namun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palopo masih tetap siaga 24 jam di lokasi banjir, utamanya Marobo di Kelurahan Salubattang. Kondisinya terparah dibanding kelurahan lainnya.

Kepala BPBD Kota Palopo, Hasan, S.Sos, kepada Palopo Pos, Selasa 25 Oktober 2016, mengatakan, status keadaan darurat bencana adalah suatu keadaan yang ditetapkan oleh pemerintah, untuk jangka waktu tertentu atas melihat pantauan cuaca BMKG.

Ancaman bencana pada saat ini adalah kejadian cuaca ekstrim yang bisa menimbulkan bencana seperti banjir, tanah longsor, puting beliung, dan gelombang tinggi hingga badai tropis. Apalagi, sebelumnya sungai jembatan miring meluap hingga menerjang tujuh kelurahan di Telluwanua.

Saat ini, kata dia, seluruh anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD masih siaga di lokasi banjir. Mereka berada di tenda yang didirikan BPBD. Menjaga segala kemungkinan yang bakal terjadi.

Pagi tadi (kemarin, Red), Hasan melakukan pantauan di lokasi banjir. Dalam pantauan itu, masih ada 10 rumah yang tergenang. Warga pun juga sudah kembali ke rumahnya masing-masing melakukan pembenahan sisa-sisa banjir.

Sedangkan untuk dapur umum, sebutnya masih berdiri. Agar warga yang belum bisa memasak karena kondisi rumahnya belum bisa ditempati bisa mengambil makanan di dapur umum. ”Untuk bantuan makanan masih terus mengalir,” sebut Hasan.
Untuk pelayanan air bersih, katanya, PDAM telah melakukan distribusi air ke lokasi banjir yang membutuhkan. Pada hari pertama banjir, ada lima tangki yang didistribusikan PDAM dan hari kedua sebanyak tiga tangki yang disalurkan untuk warga.

Hasan menaksir untuk sementara kerugian materi mencapai Rp20 miliar lebih. Dari data kerusakan yang masuk, kerusakan akibat banjir meliputi 150 hektar tambak ikan, rumput laut gracilia. Kemudian 70 hektar sawah padi milik warga yang siap panen.

”Ini belum termasuk kebun kakao dan rumput laut yang berada dalam gudang yang terendam banjir. Kemudian rumah warga yang rusak berat dan ringan,” jelas Hasan, seraya menyebutkan data ini masih sementara.

Perawat Door to Door

Sementara itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palopo melalui Puskesmas Maroangin mulai mendirikan posko pengobatan. Terdapat satu posko pengobatan yang berada di Desa Marobo, Kelurahan Salubattang, Kecamatan Telluwanua. Dimana dalam posko tersebut terdapat dua orang tenaga kesehatan yang berjaga secara bergantian.

“Kita mengambil lokasi Desa Marobo karena lokasi ini merupakan lokasi terparah diantara kelurahan yang terkena banjir,” jelas Kepala Puskesmas (Kapus) Maroangin, Satria, SKM.
Adapun penyakit yang diderita warga tersebut di antaranya penyakit kulit, sakit perut, diare, dan demam. “Sanitasi buruk di lingkungan bekas banjir dan air bersih minim pascabanjir memicu penyakit kulit, seperti gatal-gatal. Itu yang paling umum terlihat,” ujarnya.

Olehnya itu, sebagian petugas kesehatan yang berasal dari Dinkes dan Puskesmas Maroangin mendatangi rumah warga yang belum sempat sempat berobat ke posko pengobatan. “Kita lakukan cara door to door ke rumah warga khususnya rumah warga yang lanjut usia (lansia) dan tak mampu lagi berjalan untuk berobat ke posko yang telah ada,” kata Satria.
Saat ini, lanjutnya, berbagai obat-obatan yang disediakan Dinkes di posko pengobatan seperti, obat anti alergi dan obat gangguan pencernaan. “Yang paling banyak kita siapkan obat anti alergi dan gangguan pencernaan, karena rata-rata warga yang terserah penyakit yakni penyakit kulit dan diare,” jelasnya lagi.

Satria mengatakan target pendirian posko pengobatan tersebut akan berjalan satu minggu pasca banjir di Kecamatan Telluwanua.

“Tetapi jika dalam satu minggu kita masih dibutuhkan, tidak menutup kemungkinan posko yang didirikan ini akan terus berlanjut sampai kondisi warga betul-betul membaik,” tutupnya.
Sebelumnya, BMKG Luwu Raya memprediksi hujan yang disertai puting beliung dan petir masih berlanjut tiga hari ke depan. Potensinya terajadi di sore dan malam hari.

Hujan ringan hingga sedang diprediksi terus mengguyur wilayah Kota Palopo dan sekitarnya. ”Perlu diwaspadai angin kencang dan petir,” ujar Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Luwu Raya, Ahmad Sirait, Jumat 21 Oktober 2016, lalu.

Sementara itu, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Yunus S Swarinoto, mengatakan, lepas tiga hari ini, kondisi cuaca masih labih. ”BMKG akan memantau cuaca seminggu ke depan. Tapi, puncak hujan deras 25 Oktober,” ujarnya.

–Proses Belajar Belum Normal

Proses Belajar Mengajar (PBM) di SDN 52 Salutete belum berjalan normal setelah sekolahnya diterjang banjir, Sabtu 22 Oktober 2016, malam lalu. Selasa 25 Oktober 2016, para siswanya sudah mulai masuk sekolah. Namun, aktivitasnya belum seperti biasanya. Pasalnya, sejumlah siswa yakni kelas 4, 5 dan 6 membantu para guru dan pihak sekolah untuk melakukan pembersihan pasca banjir. Sementara untuk kelas 1, 2, dan 3 sudah kembali belajar meskipun tidak seperti biasanya.
Hal ini diungkap Kepala SDN 52 Salutete, Wagirah, B.,S.Pd.,MM, kepada Palopo Pos. Menurutnya, di hari kedua pasca banjir, aktivitas belum berjalan normal. Para guru dan sebagian siswa melakukan pembersihan sisa-sisa banjir dan menjemur ratusan buku serta arsip-arsip yang terkena banjir. Serta mengatur kembali meja dan kursi yang sudah dibersihkan dari lumpur.

”Insya Allah besok (hari ini, Red) proses belajar mengajar di sekolah sudah kembali normal,” kata Wagirah.

Mengenai ratusan buku paket dan buku perpustakaan yang terendam banjir, Wagirah menjelaskan kalau saat ini pihaknya menjemurnya. Jika memang masih bisa dipakai, maka buku tersebut akan disimpan kembali. Kalau memang sudah tak layak, maka tidak akan digunakan lagi.

”Kami akan pilah-pilah mana yang masih bagus dan masih layak,” sebutnya.
Saat ditanya apakah ada bantuan buku dari Dinas Pendidikan, ia menyebutkan kalau belum ada bantuan. ”Belum ada bantuan dari Dinas Pendidikan yang kami terima,” tegasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, akibat banjir yang menggenangi SDN 52 Salutete, seluruh siswanya yang berjumlah 130 orang diliburkan Senin 24 Oktober 2016. Hal ini dimaksudkan agar pihak sekolah dapat lebih berkonsentrasi dalam membersihkan dan membenahi sisa-sisa banjir di sekolah tersebut.(palopo pos/fajar)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

The Latest

To Top