Bareskrim Bongkar Praktik Mafia Pengoplos Beras – KOLAKA POS

KOLAKA POS

NASIONAL

Bareskrim Bongkar Praktik Mafia Pengoplos Beras

KOLAKAPOS, Jakarta–Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Ditipideksus) Badan Reserse Kriminal Kepolisian menggerebek jaringan mafia beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, Kamis (6/10) sore.

Para pelaku tertangkap tangan tengah mengoplos beras Bulog bersubsidi dari Thailand dengan beras asal Demak, Jawa tengah. Dalam penggerebekan itu, penyidik mengamankan pelaku pengoplos beras bernama A alias S dan pemilik gudang beras berinisial TI.

Polisi juga menyita ratusan ton beras yang telah dicampur. Beras itu dijual ke pasaran sebagai beras premium.

“Beras kurang lebih 200 ton, itu persediaan di gudang dan persediaan di gudang bulog untuk subsidi sekitar 68 ton,” kata Direktur Tipideksus Bareskrim Brigjen Agung Setya saat dihubungi, Kamis (6/10).

Menurutnya, para pelaku menyalahgunakan distribusi cadangan beras pemerintah bersubsidi. “Mereka melanggar Permendag nomor 4 tahun 2012 tentang penggunaan cadangan beras pemerintah untuk stabilitas harga,” kata jenderal bintang satu ini.

Agung menjelaskan, beras itu seharusnya diperuntukkan bagi kegiatan operasi pasar. Namun faktanya, kata dia, beras itu dicampur dengan beras lokal untuk dijual kembali.

Selain itu, 15 persen beras Bulog asal Thailand yang digunakan untuk campuran juga diperoleh para pelaku dari distributor ilegal. Sebab, beras Bulog asal Thailand mestinya hanya didistribusikan oleh distributor yang telah ditetapkan oleh pemerintah provinsi.

Beras Thailand dengan komposisi 15 persen merupakan beras pecah (broken) yang diimpor pemerintah Indonesia dari negeri gajah putih untuk cadangan beras. Impor tersebut dilakukan langsung oleh Bulog.

Berdasarkan data pada Bulog Divisi Regional DKI Jakarta, ada pengiriman 400 ton beras dari Bulog ke PT Dian Sriyono Utama (PT DSU). Padahal, perusahaan tersebut bukan distributor yang ditunjuk untuk menerima beras impor tersebut.

Bareskrim kemudian menyelidiki kasus penyelewengan beras subsidi itu. Beras dari PT DSU itu mengalir ke gudang milik Tan Inje dan Asai.

Saat ditanya dugaan adanya jejaring mafia pangan, Agung belum mau menjelaskan lebih jauh. “Kasus ini masih dalam pengembangan dan pihak-pihak terkait masih ditelusuri. Besok akan Kita rilis. Sabar ya,” pungkasnya. (boy/jpnn)

Click to comment

The Latest

To Top