Pintu Air, Solusi Banjir di Depan Kantor Gubernur – KOLAKA POS

KOLAKA POS

SULSELBAR

Pintu Air, Solusi Banjir di Depan Kantor Gubernur

KOLAKAPOS, Makassar–Dari tahun ke tahun, Jalan Urip Sumiharjo, tepatnya depan Kantor Gubernur Sulsel selalu bersoal ketika hujan turun. Yah, lokasi itu bakal tergenang air dengan kedalaman hingga betis orang dewasa.

Akibatnya, arus lalu lintas melambat dan menimbulkan kemacetan cukup parah hingga ke fly over.
Penyebab utama kemacetan tersebut sebenarnya sudah dideteksi. Selain posisinya yang lebih rendah dibanding lokasi sekitar, saluran drainase juga tidak berfungsi maksimal.
Kepala Satker Pelaksanaan Jalan Metropolitan Makassar
Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) XIII, Rahman Jamil kepada BKM mengemukakan, bukan cuma jalan yang bersoal disana melainkan beberapa faktor.
“Kalau soal jalan saja yang mau ditinggikan, itu tidak terlalu maksimal. Butuh penanganan bersama terutama stakeholder terkait,” ungkapnya.
Dia melanjutkan, persoalan drainase yang paling butuh penanganan. Pasalnya, selain ada beberapa titik yang mampet, sudah menjadi hukum alam jika hujan deras turun, permukaan air atau elevasi Sungai Pampang akan meningkat. Otomatis ketinggiannya bisa lebih tinggi dari aliran air yang berada di drainase. Akibatnya, air yang berada di saluran pembuangan tidak bakalan mengalir.
“Kami sudah melakukan pengukuran, ternyY kalau hujan deras, elevasinya jadi tinggi,” ungkapnya.
Dia meneruskan, salah satu solusi yang bisa dilakukan untuk memecahkan persoalan tersebut dengan membuat pintu air tepat di antara saluran pembuangan dan Sungai Pampang. Jadi, ketika permukaan air sungai meninggi, pintu air ditutup. Sementara untuk mengalirkan air ke sungai, digunakan pompa air.
Namun, lanjutnya, persoalan tidak sebatas itu. Ternyata, di saluran drainase banyak ditemukan sedimentasi yang menghambat laju aliran aliran. Ada beberapa titik dimana sedimentasinya cukup sulit dikeruk. Salah satunya adalah pas di depan eks Kantor Perhubungan Sulsel, banyak berdiri lapak-lapak alias warung diatas saluran drainase. Tentu sangat sulit untuk mengeruk sedimentasi dibawah lapak-lapak tersebut.
Persoalan lain, ada saluran air yang tertutup dilakukan pengembang salah satu mal di sebelah kantong gubernur. Pihak pengembang berjanji akan memperbaiki dan membukanya setelah bangunan sudah jadi. Itu tentu saja butuh waktu dan proses.
Selain itu, ada baru besar di depan gedung yang sementara dibangun itu. Pihaknya sudah pernah mau menghancurkan. Namun persoalannya, ada direksi keet yang berdiri diatasnya.
Menurut Rahman, butuh kerjasama sektoral untuk menangani persoalan banjir depan kantor gubernur, termasuk Pemerintah Kota Makassar.
“Ayo kita duduk bareng selesaikan persoalan itu. Kalau sekedar meninggikan jalan itu tidak ada persoalan. Dari Balai Jalan siap jika terkait infrastrukturnya,” kata Rahman.
Sebelumnya, Gubernur Sulsel Syahrul, Yasin Limpo juga mengeluhkan jalan depan Kantor Gubernur Sulsel kerap menjadi langganan banjir setiap musim hujan tiba.
Sebenarnya, kata orang nomor satu di Sulsel itu, jalan depan kantornya itu sudah dinaikkan setinggi 30 cm. Saluran drainasenya juga sudah diperbaiki Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang. Lubang pembuangannya juga sudah diperbesar sehingga air lebih maksimal masuk ke saluraan drainase.
Namun, memang yang jadi persoalan karena kontur dan ketinggian tanahnya paling rendah dibanding daerah sekitarnya seperti Panaikang. Akibatnya, jika hujan turun, otomatis air akan mengalir ke daerah yang lebih rendah yakni depan kantor gubernur.
Hal itu diperparah lagi dengan semakin berkurangnya daerah serapan air di sekitar kantor gubernur, tergantikan dengan gedung-gedung beton.
“Dulu itu kan di daerah Racing Centre banyak areal persawahan, sehingga ada daerah serapan air. Sekarang tidak ada lagi, diganti dengan bangunan-bangunan kokoh,” ungkapnya.
Dia mengaku dibutuhkan strategi atau metode yang jitu untuk menangkal genangan yang cukup parah di sekitar kawasan Kantor Gubernur. Untuk sistem pompanisasi alias memompa air yang menggenang jalan tersebut, Syahrul menilai itu juga tidak bakalan berfungsi maksimal. Alasannya, saat volume hujan tinggi, drainase juga akan penuh air sehingga air yang dipompa dari jalan tidak bakalan maksimal pembuangannya.
Karena itu, semua pihak terkait diminta bisa duduk bersama untuk memecahkan persoalan yang setiap tahun dihadapi ketika musim hujan tiba. Apalagi, anggaran yang dimiliki juga terbatas. (bkm/fmc)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

The Latest

To Top