Setor Rp250 Juta, Pasutri Gagal Berhaji – KOLAKA POS

KOLAKA POS

SULSELBAR

Setor Rp250 Juta, Pasutri Gagal Berhaji

KOLAKA POS, Sidrap –  Cerita miris masih tersisa dari kepulangan 117 Jamaah Calon Haji (JCH) asal Sulsel. Mereka yang tertahan di negara Filipina dan gagal berangkah ke Tanah Suci Mekkah, kini harus gigit jari tak bisa menunaikan niat sucinya.
Dua dari 117 orang itu adalah pasangan suami istri (pasutri) asal Desa Mojong, Kecamatan Watang Sidenreng, Kabupaten Sidrap. Masing-masing Lamarola Bin Labalulu (61), dan istrinya I Coma Binti Made Ali Tagge (57).
Pasutri ini mendaftar di Travel Daulat Amin yang beralamat di Sengkang, Kabupaten Wajo. Mereka membayar Rp250 juta untuk bisa berangkat haji berdua. Uang tersebut dikumpulkan dari hasil bertani selama puluhan tahun.
Kepada BKM yang menemuinya, kemarin, Lamarola bersama istrinya, I Coma menceriakan ihwal awal mula dirinya mendaftar di travel Daulat Amin. ”Waktu itu ada saudara yang bilang, ada travel yang bisa memberangkatkan haji tahun 2016 ini tanpa harus menunggu lama,” tuturnya.
Keduanya juga dijanjikan berbagai kemudahan. Salah satunya akan diberangkatkan ke Tanah Suci tahun ini, dengan syarat membayar uang tunai Rp125 juta per orang.
”Pihak travel hanya bilang seperti itu ke kami. Mereka tidak pernah menyampaikan kalau nantinya kami akan terbang lewat Filipina. Makanya, kami merasa tertipu,” cetus Lamarola yang diamini istrinya.
Lamarola bersama istrinya, mengaku baru tiba di rumahnya Minggu malam (4/9). Dia menyebutkan, khusus untuk jamaah travel Daulat Amin, ada sekitar 65 JCH plusnya yang dibawa melalui Filipina.
Lebih jauh Lamarola menceritakan, ia bersama istri dan para JCH lainnya sempat ditahan pihak Imigrasi Filipina, kemudian dibawa ke kantor polisi. Namun selama lebih sepekan tertahan di negara tetangga itu, 177 jamaah diperlakukan dengan baik.
“Kami sempat dibawa ke salah satu gereja. Disitu jamaah dipisahkan antara laki-laki dan perempuan. Selanjutnya, kami baru ditangani oleh pihak KBRI di Manila,” terangnya.
Menyusul kegagalannya berangkat ke Tanah Suci untuk berhaji, Lamarola menuntut pihak travel untuk mengembalikan uangnya secara utuh. Hingga saat ini uang tersebut belum juga dikembalikan. Sebaliknya, pihak travel kembali berjanji untuk memberangkatkan mereka tahun depan.
“Pihak travel janji akan berangkatkan kami berdua tahun depan. Tapi saya dan istri sudah kapok dan memutuskan tidak lagi akan berhaji melalui travel itu,” cetusnya.
Meski gagal berangkat, namun Lamarola dan istrinya yang memiliki lima orang anak, bersyukur bisa kembali berkumpul dengan sanak saudara di kampung halamannya. “Yang penting saya bisa kembali ke kampung berkumpul anak dan keluarga. Saya yakin ini ada hikmahnya. Tuhan telah mengatur segalanya,” kuncinya dengan dialek bahasa Bugis yang kental. (bkm/fajar)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

The Latest

To Top