Pakai Biaya Sendiri ke Jakarta – KOLAKA POS

KOLAKA POS

BERITA UTAMA

Pakai Biaya Sendiri ke Jakarta

Popalayah, saat di Jakarta Usai mendapatkan penghargaan sebagai Penyuluh Teladan.

Popalayah, Penyuluh Pertanian Terbaik Asal Kolaka

KOLAKA POS, Kolaka – Meski telah mengharumkan nama daerahnya, Kabupaten Kolaka dan Sulawesi Tenggara karena meraih peringkat terbaik atau rangking satu Penyuluh Pertanian Teladan Tingkat Nasional, se Indonesia, namun tak diberi dukungan dan apreseasi oleh kantornya dan Pemerintah Daerahnya baik Pemda Sultra dan Pemda Kolaka.
Bahkan untuk ke Jakarta saja dalam rangka menerima Penghargaan dari Pemerintah Pusat dan Menteri Pertanian RI, Amran Sulaiman, pada Perayaan dari Kemerdekaan RI yang ke-71 tahun ini, ia harus berjuang sendiri untuk mendapatkan dana menuju Istana. Itulah yang dialami oleh  seorang penyuluh pertanian asal Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara bernama Popalayah, S.Pt M.Si.
Adalah Popalayah, seorang tenaga honorer Penyuluh Pertanian asal Kabupaten Kolaka mencatatkan namanya dalam lembaran sejarah perjalanan bangsa ini karena mendapat penghargaan dari Pemerintah Pusat sebagai penyuluh Pertanian teladan dan terbaik se Indonesia.
Wanita muslimah yang tujuh tahun berstatus honorer di Badan Koordinasi Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Provinsi Sulawesi Tenggara ini bahkan menjadi yang terbaik dari 32 Penyuluh Teladan lainnya yang diundang ke Jakarta untuk menerima penghargaan tertinggi di bidang penyuluh pertanian itu. “Ada 33 penyuluh teladan yang di undang waktu
peringatah HUT RI kemarin, nah disana lagi kita diseleksi tiga besar, dan Alhamdulillah saya menjadi peringkat pertama dari tiga besar itu,”  kisah Popa, sapaan akrabnya Kepada Kolaka Pos di rumahnya kemarin.
Dan berkat prestasinya itu, dirinya berkesempatan hadir di Istana dan dijamu makan siang bersama orang nomor Satu Bangsa ini, Presdien RI Joko Widodo.
“Saya tidak menyangka bisa dapat peringkat terbaik, apalagi bisa bertemu langsung dengan Pak Jokowi dan diberi ucapan selamat langsung, dan diundang makan siang lagi bersama beliau bersama menteri pertanian, dan
terharunya saya karena dari tiga yang terbaik itu hanya saya yang dipanggil ketemu presiden,” tutur Popa dengan sedikit sumringah.
Wanita Kelahiran Kolaka, 32 tahun silam itu juga menceritakan bagaimana kisahnya bersaing dengan Penyuluh Pertanian lainnya yang ada di Kabupaten dan Propinsi untuk menuju Istana. Dirinya tidak menyangka bisa membawa Nama Daerah Kolaka dan Sulawesi Tenggara menjadi Penyuluh Pertanian Teladan, karena harus melewati berbagai tahapan seleksi dan
presentasi. “Banyak Penyuluh pertanian disini, jadi kita diseleksi dulu mulai dari tingkat Kecamatan, lalu Kabupaten lalu Ke propinsi, kita
harus presentasi dalam seleksi itu, dan Alhamdulillah saya selalu meraih skore tertinggi, bahkan kata orang kantorku saya waktu seleski di tingkat Propinsi saya melewati batas skore, saya juga heran, tapi katanya sudah seperti itu nilai yang saya dapatkan,” ungkap wanita yang bersuamikan pegawai BASARNAS ini.
Meski mendapat penghargaan tertinggi tersebut, ada rasa kekecewaan yang hadir dibenaknya sebab untuk menuju Istana dirinya harus berjuang sendiri tanpa support dan dukungan dari pemda. “Saya sebenarnya kecewa, sebab untuk ongkos tiket pulang pergi kesana, saya yang harus tanggung sendiri, tak sepersenpun saya dapatkan uang saku, padahal dari surat undangan yang saya dapatkan dari pusat waktu mau menerima penghargaan itu tertera bahwa segala biaya mulai tiket dan uang saku ditanggung oleh Pemda setempat,” papar lulusan Sarjana Pertanian Universitas Hasanuddin itu.
Untuk hadir di Jakarta dirinya beberapa kali meminta perihal biaya di kantornya, namun kata Popa, kantornya tak bergeming, bahkan pemda setempat pun tak meliriknya. “Saya sebenarnya nda mau hadiri, sebab saya ke kantor tanya itu, atasan hanya diam-diam saja, tetapi karena ada rasa tanggung jawab saya nekat saja berangkat, dengan keterbatasan dana yang saya miliki, untungnya saya dikasi tiket berangkat seharga 900 ribu sama bendahara Kantor Bakorluh di propinsi, itupun setelah saya sampaikan bahwa saya mau menghadap pak Gubernur,” kisahnya. Dengan modal tiket seharga 900 ribu dan  nekat serta tekad itulha, jadilah Popa berangkat Ke Jakarta dan stay selama hampir sepekan, dengan ongkos seadanya dan dari biaya sendiri yang dikumpulkannya.
Lulusan S2 UGM tersebut juga menyayangkan pihak Pemda setempat tak mendukungnya, padahal dari surat pemberitahuan mengenai keberangkatannya tersebut pasti ditembuskan ke pihak Pemda setempat.”Nyata-nyata dari surat itu tertera bahwa segala biaya keberangkatan saya ditanggung oleh Pemda, dan pasti itu ditembuskan ke mereka,” ujarnya.
Saat di Jakarta, Kata Popa,  dirinya iri dengan penyuluh pertanian lainnya yang medapat support dari kantor dan pemdanya masing. Tapi hal itu tidak membuatnya terhenti untuk mengahdirkan prestasi yang terbaik bagi intasi dan daerahnya. “Waktu di Jakarta, kalau dengar cerita dari teman-teman penyuluh lain saya biasa iri, sebab dukungan besar dari daerahnya sangat tinggi, bahkan ada diberi hadiah Umroh, saya hanya bisa senyum kalau mereka cerita itu, tapi  itu tidak membuat saya untuk tersisih dan berprestasi, saya ingin tunjukkan bahwa orang Kolaka dan Sulawesi Tenggara juga bisa, ” ujarnya.
Meski Kecewa, Popa mengaku bahwa apa yang dialaminya ada hikmah yang bisa diperolehnya. Yang pasti kata wanita yang pernah tercatat sebagai pemanjat tebing wanita dari Korps Pecinta Alam (Korpala) Unhas itu penghargaan yang diterimanya itu merupakan anugrah dari Yang MAha Kuasa dan sebagai wujud pengabdiannya yang tulus kepada Bangsa dan Negara Republik Indonesia. “Tapi sudahlah, yang pasti saya tetap bersyukur sabab penghargaan ini adalah anugerah dari Allah SWT juga, dan ke depan saya akan tetap mengabdi untuk bangsa ini melalui bidang saya,” tutupnya mengakhiri pembicaraan.
Ditempat terpisah, mendengar kisah dari Popa, Ketua DPRD Kolaka, Parmin Dasir juga sangat menyayangkan hal tersebut. Menurutnya untuk ke depan hal seperti itu jangan terjadi lagi. “Wah kasian juga, saya sangat sayangkan hal ini, terutama pihak kantornya beliau, apalagi negara yang undang ini, kalaupun misalnya tidak ada anggarannya karena takutnya bukan pns, saya kira itu bisa dibuatkn inisiatif,” papar Parmin.
Ketua DPRD juga tak menyangka jika Popa mengalami hal tersebut, sebab kata dia prestasi Popa harus mendapat dukungan dan apreseasi apalagi sudah mengharumkan nama daerah. “Tidak gampang dan jarang ada orang seperti ini, berpretasi ditingkat Nasional dan mengahrumkan nama Daerah lagi,  harusnya diberi dukungan dan apreseasi, sebab kita juga bangga ternyata ada anak daerah kita yang bisa berprestasi, saya juga heran kok bisa terjadi seperti itu sama beliau, seandaninya sebelum beliau berangka saya tahu, saya tidak janji tapi pasti tidak akan terjadi seperti ini,” ujarnya.
Parmin berharap, kedepan Pemerintah harus tanggap dan beberikan apreseasi kepada mereka yang telah berprestasi.”Saya berharap, apa yang menimpa Popalayah tidak lagi terjadi ke depan, Pemda dan kita semua harus memberikan dukungan dan support serta apreseasi kepada mereka yang berprestasi, di daerah lain saja saya baca di media bahkan sepulang dari Istana mereka di elu-elukan dan diberi apreseasi, kok kita tidak bisa,” papar Parmin. (cr4/hen)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

The Latest

To Top