Dua Kades Dilaporkan di Kejari Muna – KOLAKA POS

KOLAKA POS

BERITA UTAMA

Dua Kades Dilaporkan di Kejari Muna

Dugaan Penyalahgunaan ADD 2015

KOLAKA POS. RAHA – Kepala Desa (Kades) Konsume kecamatan Duruka dan Kades Liang Kubori kecamatan Loghia tampaknya akan berurusan dengan Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Muna. Pasalnya, dua Kades tersebut dilaporkan warganya ke Kejari, lantaran diduga telah menyalahgunaan Alokasi Dana Desa (ADD) 2015 dalam  pembangunan penampungan air bersih.

Salah seorang warga Desa Konsume Sarifuddin menuturkan, kedatangannya bersama dengan lima orang rekannya di Kejari Muna lantaran menduga Kades Konsume yakni La Ode Siri menggelapkan dana desa sekitar Rp1001 juta ADD berasal dari APBD  2015. “Sekitar Rp1001 juta itu baru dugaan kami. Belum kami rinci secara maksimal item-item barang dan jasa yang mereka gunakan. Karena dana  2015 di desa kami inikan sebesar Rp 272 juta. Sementara yang mereka kerjakan hanya satu unit bak penampungan sebesar 30 meter kubik dan panjang perpipaannya itu sekitar 3000 meter. Sementara, di dalam RAB yang seharusnya mereka kerjakan itu untuk bak 33 meter kubik dan panjang perpipaan itu seharusnya sepanjang 6686 meter dengan anggaran RABnya Rp271 juta,” ujarnya kemarin (30/8).

Olehnya itu, Ia berharap dengan kedatangannya di Kejari Muna, dapat menindak lanjuti laporan mereka tersebut. “Kami berharap agar laporan ini segera ditindak lanjuti dan diperiksa secepat mungkin. Jika misalkan ini memenuhi unsur pembuktian dalam RAB, sehingga bisa ditetapkan sebagai tersangka secepatnya,” ungkapnya.

Hal senada juga di ucapkan warga desa Loghia Dewiki, Saribi kepada Kolaka Pos. Menurutnya, dana desa Liang Kubori 2015 sebesar Rp 282 juta. Dana tersebut digunakan oleh kepala desa La Baru untuk pembuatan penampungan air hujan sebanyak 30 unit. Namun, saat masyarakat melakukan investigasi terkait pembuatan penampungan air hujan itu, mereka mendapatkan beberapa kejanggalan. Adapun kejanggalan yang didapat merupakan item-item yang terdaftar dalam RAB pembuatan penampuangan air tersebut, namun tidak diadakan.

“Adapun barang dan jasa yang tidak terealisasi atau fiktif tersebut yakni Dolken/penyanggah seharga Rp2 juta, Kayu balok 6×12 cm seharga Rp700 ribu, kayu balok 5x7cm seharga Rp900 ribu, tali nilon seharga Rp1,1 juta, gerobak dorong seharga Rp1 juta, ember campuran seharga Rp150 ribu, sekopang Seharga Rp375 ribu, batu merah seharga Rp1 juta, triplek seharga Rp2,4 juta, dan biaya tak terduga sebesar Rp4 juta lebih. Jadi, berdasarkan hasil akumulasi pengadaan barang fiktif itu sebesar Rp13,6 juta lebih.

Olehnya itu, Ia juga berharap Kejari Muna dapat menindak lanjuti laporan mereka tersebut. “Pihak kejaksaan menindak lanjuti laporan kami, dan apabila dalam pemeriksaan, apa yang kami adukan ini misalkan ada tindakan pidana, kami minta pihak kejaksaan untuk menjalankan proses hukum sesuai dengan dengan aturan yang berlaku,” pintahnya

Sementara itu, Staf Intel Kejari Muna Nasir yang menerima aduan masyarakat dari dua desa tersebut mengarahkan  itu untuk kembali melakukan pelaporan pada Kamis (1/9) mendatang. Sebab, Kajari Muna Badrut Tamam dan Kasi Intel   La Ode Abdul Sofian sedang berada di Kendari. “Sejak Senin (29/8) mereka ke Kendari. Dua hari lagi mereka akan pulang,” katanya. (m1)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

The Latest

To Top