Pos Kembangkan Bisnis Jasa Logistik – KOLAKA POS

KOLAKA POS

SULSELBAR

Pos Kembangkan Bisnis Jasa Logistik

BKM/AMIRUDDIN NUR DONOR DARAH -- Sejumlah pegawai PT Pos Indonesia regional X sedang melakukan donor darah usai upacara HUT Pos Indonesia ke 270 tahun

 

KOLAKA POS, Makassar – PT Pos Indonesia (Persero) sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dibidang jasa kurir dan logistik, memasuki usianya ke 270 tahun, terus mengembangkan bisnis usahanya. Termasuk membuka kantor pelayanan di daerah perbatasan yang rawan konflik. Padahal, pembukaan kantor pelayanan ini sebenarnya tidak memberi keuntungan bagi PT Pos sendiri.
”Meski dari segi bisnis tidak masuk, tapi kami tetap harus membuka kantor pelayanan di wilayah perbatasan yang rawan konflik. Karena ini sudah menjadi penggarisan dari pemerintah. Karenanya, PT Pos Indonesia sebagai perusahaan milik negara, sudah tentu harus mengikuti penggarisan tersebut,” kata Kepala Regional X PT Posindo Indonesia wilayah Sulawesi dan Maluku, Arifin Muhlis didampingi Tia Proklamasiany, Kepala Kantor Pos Slamet Riyadi, di kantornya.
Arifin mengakui, PT Pos yang sebelumnya memiliki core bisnis dibidang pengantaran surat, sekarang lebih fokus pada bisnis logistik berupa pengantaran paket dan parcel. Karena selama ini, dari bisnis jasa logistik telah memberi kontribusi pendapatan sebesar 70 persen dari total pendapatan Pos.
”Dalam beberapa waktu terakhir, pendapatan dari sektor bisnis logistik lebih menjanjikan dibandingkan bisnis surat. Tapi itu tidak berarti kami tidak lagi menekuni bisnis surat. Bisnis pengiriman surat tetap jadi prioritas,” tutur Arifin.
Tentang realisasi pendapatan kantor regional X selama semester pertama, Arifin mengatakan, sudah mencapai 60 persen lebih dari targer Rp300 miliar. ”Ke depan, kami akan mengembangkan mobile pos atau My Pos yang sudah bisa diakses melalui internet. Visi PT Pos Indonesia adalah menjadi raksasa logistik pos dari timur,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur Utama Pos Indonesia, Gilarsi W Setijono menyampaikan, Pos Indonesia pada masanya telah menjadi benang yang merajut interkoneksi 17.000 pulau bersama 250 juta lebih penghuninya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, dari Talaud sampai Rotte. Tatkala radio, telepon terlebih lagi internet belum agi hadir pilihan manusia untuk berkomunikasi dan berkirim barang maupun uang hanyalahmelalui pos. Namun teknologi telah mengubah semuanya. Pos yang pernah ‘nyaman’ di zaman keemasannya terlena dan tertidur. ”Dalam bisnis kurir Matahari tidak lagi terbit dari timur. Peta bisnis sudah sedemikian berubahnya dengan menjadi kurang relevannya surat tergantikan email. Tidak relevannya telegram tergantikan digital messengers seperti WhatsApp, Facebook, dan Twitter, dsb. Tergesernya peran wesel sebagai protocol pengiriman uang oleh bank bahkan lebih jauh lagi financial-technology (fintech) yang dapat menggantikan dengan biaya yang jauh lebih murah dengan tingkat keamanan dan kecepatan yang lebih baik,” katanya. (mir)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

The Latest

To Top