Minim Penyulingan, Petani Nilam di Anawua Terancam Merugi – KOLAKA POS

KOLAKA POS

SAFARI DESA

Minim Penyulingan, Petani Nilam di Anawua Terancam Merugi

Hasil panen nilam warga Anawua yang dikeringkan. Foto : Hasrul/Kolaka Pos

KOLAKA POS, KOLAKA – Meningkatnya hasil panen tanaman nilam di Desa Anawua Kecamatan Toari saat ini membuat pemilik penyulingan minyak nilam di daerah itu kesulitan dalam memproduksi tanaman mereka menjadi minyak nilam. Pasalnya sarana produksi menyulingan di desa itu sangat minim dibandingkan dengan luas perkebunan yang mencapai ratusan hektar. Akibatnya banyak tanaman warga yang sudah dipanen terancam rusak lantaran terlambat dilakukan penyulingan untuk menjadi minyak.
Saat ini luas lahan perkebunan nilam yang dibudidayakan oleh petani mencapai berkisar dua ratus hektar. Dari jumlah tersebut, hanya ditunjang dengan empat unit penyulingan. Akibatnya saat musim panen tiba seperti saat ini, banyak hasil panen warga yang terancam rusak sebab butuh waktu lama untuk diproses menjadi minyak.
Kepala Desa Anawua, Rudding, mengakui bahwa saat ini pabrik pengolahan minyak nilam di desanya hanya ada empat unit saja, sementara hasil panen warga sangat meningkat. Jika ini terus dibiarkan maka petani terancam merugi, sebab hasil panen mereka terlambat untuk diolah. Dirinya berharap kiranya pemerintah daerah bisa mengupayakan bantuan penyulingan nilam di desanya itu, seperti yang dilakukan di desa lainnya.
“Saat ini sudah memasuki musim panen nilam namun semua pabrik penyulingan sudah kesulitan melayani petani. Jika hasil panen mereka terlambat diolah, saya yakin banyak nilam warga yang rusak akibat terlambat dilakukan penyulingan. Hal ini sangat kita sayangkan mengingat harga minyak nilam yang sangat menjanjikan saat ini. Kami berharap Pemerintah Daerah melalui Dinas terkait bisa memberikan bantuan pabrik penyulingan bagi kami, agar hasil pertanian warga bisa maksimal dirasakan,” kata Rudding.
Sementara itu, Dullah, salah seorang petani nilam di desa Anawua mengakui, petani nilam sangat membutuhkan adanya tambahan penyulingan nilam di daerahnya itu.
“Dalam satu kali penyulingan pabrik membutuhkan 2-3 kwintal nilam kering. Dari hasil tersebut bisa dihasilkan 5-7 kg minyak nilam. Jika harga nilam saat ini mencapai kisaran Rp480 ribu perkg, maka wajar jika nilam ini menjadi tanaman primadona warga desa Anawua. Jadi sangat disayangkan jika hasil tanaman kita menjadi rusak lantaran terlambat disuling. Kan sangat disayangkan jika ada sumber ekonomi yang bisa diharapkan oleh masyarakat sementara tidak ditunjang dengan sarana yang memadai. Saya kira disinilah bentuk peran pemerintah dalam mensejahterakan masyarakatnya,” tandasnya. (cr3/hen)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

The Latest

To Top