Oknum Wartawan Merajalela Garap Kades – KOLAKA POS

KOLAKA POS

BERITA UTAMA

Oknum Wartawan Merajalela Garap Kades

Manfaatkan Surat Edaran Humas Pemda Kolaka!

KOLAKA POS, KOLAKA – Melimpahnya anggaran yang dikelola desa, ternyata berbuntut pada meningkatnya aksi oknum ‘Wartawan Nakal’ yang banyak menyasar Kepala Desa (kades) menjadi korbannya, dengan dalih menawarkan publikasi kegiatan di sejumlah desa yang disambanginya, oknum wartawan tersebut berhasil meyakinkan Kades untuk memanfaatkan media yang mereka tawarkan dalam penerbitan kegiatan di desa itu.
Sayangnya, harapan Kades untuk membaca berita tentang kegiatan di desanya itu hanyalah penantian belaka, sebab hingga berbulan-bulan berita yang telah ditunggu terbitnya tak kunjung ada. Ironisnya, para Kades mengaku telah mengeluarkan biaya publikasi rata-rata Rp1 juta yang disertai dengan kwitansi pembayaran.
Beberapa Kepala Desa yang ditemui mengaku, jika mereka yakin saja jika oknum wartawan itu bisa dipercaya untuk memuat berita tentang desanya itu. Pasalnya, selain nama media mereka tercantum dalam surat edaran yang dikeluarkan oleh Bagian Humas Pemda Kolaka yang ditandatangani oleh Asisten I Pemda Kolaka, mereka juga memberikan kwitansi pembayaran dana publikasi dengan nominal dana yang mereka terima.
Akan tetapi, berita yang dijanjikan untuk diterbitkan tak kunjung tiba. Akibatnya Kades yang terlanjur digarap itu menjadi resah karena bukti terbitan koran atau majalah yang akan dijadikan sebagai laporan pertanggung jawaban pengeluaran anggaran publikasi tak bisa diperoleh.
Kepala Desa Lalonggolosua Kecamatan Tanggetada, Djaelani Hasan contohnya, dirinya mengaku sejak Mei lalu telah mengeluarkan biaya publikasi kepada salah satu media cetak berinisial Arm dengan nominal Rp1 juta, yang disertai dengan kwitansi pembayaran yang diterima dan ditandatangani oleh wartawan media tersebut dengan inisial BY. Kepada Kades, BY berjanji akan menerbitkan berita yang diliputnya pada keesokan harinya. Namun sayang hingga Juli ini berita yang dijanjikan terbit pada media itu tak pernah diterimanya.
“Terus terang kami merasa sangat dirugikan sebab meski dana tersebut telah dibuatkan kwitansi, namun koran yang memuat berita kegiatan kami hingga saat ini tak pernah ada. Padahal berita yang telah diterbitkan itu akan kami jadikan sebagai laporan penggunaan anggaran publikasi. Inikan sangat merugikan kami sebagai Kepala Desa, sebab kami merasa tertipu dengan ulah mereka,” kata Djaelani kepada Kolaka Pos.
Selain di Lalonggolosua, oknum wartawan dengan nama media yang sama, diperkirakan juga menggarap desa-desa lainnya yang bisa diperdayainya. Sebut saja Desa Totobo, Kecamatan Pomalaa, yang juga merasakan nasib yang sama dengan Kades Lalonggolosua. Saat disambangi, Kades Totobo, Sudirman, juga memperlihatkan kwitansi dengan jumlah dana sebesar Rp1 juta yang telah dibayarkan kepada wartawan media Arm yang ditandatanganu oleh BY, tanpa bukti berita yang telah diterbitkan.
“Sebenarnya saya juga kaget karena mereka langsung meminta dana publikasi, dengan menyodorkan kwitansi sebesar satu juta rupiah untuk dibayarkan. Karena saya percaya saja jika berita itu nantinya akan diterbitkan jadi saya bayarkan. Tapi setelah ditunggu beritanya ternyata tak terbit-terbit sampai sekarang. Malah jika wartawannya dihubungi sangat sulit diajak komunikasi. Jadi kami bingung mau bikin laporan pertanggungjawabannya pakai apa. Ini yang kami sesalkan,” tandasnya.
Lain lagi yang dialami oleh Kades Puubunga di Kecamatan Baula. Dengan bertingkah seperti layaknya seorang auditor, seorang oknum wartawan yang enggan dia sebutkan namanya itu, melancarkan aksinya dengan melaporkan hasil pekerjaan pembangunan drainase di desa Puubunga kepada Kepala Bidang (Kabid) di lingkup Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPM dan Pemdes) Kolaka. Kepada Kabid tersebut sang oknum wartawan meminta agar BPM dan Pemdes Kolaka, segera turun ke desa itu untuk memeriksa hasil pekerjaan pembangunan drainase di Desa Puubunga, karena ditemukan banyak masalah. Namun, lagi-lagi ternyata laporan yang disampaikan lewat handphone itu hanyalah modus yang digunakan dalam menakuti pihak BPM dan Pemdes Kolaka dan Kepala Desa.
“Waktu itu dia (oknum wartawan, red) menelpon ibu Sri di BPMD dan melaporkan jika drainase yang dibangun di desa (Puubunga, red) ini dikerjakan asal-asalan. Karena kami tidak ingin timbul kesalahpahaman antara BPMD, kami dan wartawan tersebut, maka kami terpaksa membayarkan sejumlah dana sebagaimana yang dikehendaki oleh oknum wartawan itu, agar kesalahpahaman itu tidak berkepanjangan. Apalagi kami memang memiliki post biaya publikasi kegiatan untuk media. Hanya saja dalam menentukan media mana yang kami akan gunakan sebagai mitra dalam menerbitkan berita di desa kami, tentunya kami memilih koran dengan wartawan yang berintegritas dan memahami kondisi desa kami. Bukan malah yang hanya datang mencari keuntungan sepihak, apalagi dengan menggunakan cara-cara yang tidak beretika,” kata Kades Puubunga, Sutaji. (cr3)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

The Latest

To Top