Usut Tuntas Tindakan Penganiayaan Jalil – KOLAKA POS

KOLAKA POS

KOTA KENDARI

Usut Tuntas Tindakan Penganiayaan Jalil

Tim Advokasi Kasus Pembunuhan Abdul Jalil.FOTO : Kadamu/Kolaka Pos

KOLAKA POS, KENDARI – Proses penangkapan almarhum Abdul Jalil yang diduga mengalami penganiayaan oleh aparat kepolisian (Polres) Kendari, dinilai pihak keluarga almarhum melanggar SOP kepolisian.
Hal ini di ungkapkan pendamping keluarga korban, Meri. Menurutnya pihak kepolisian telah melanggar prosedur yang berlaku pada saat penangkapan terhadap almarhum Jalil.
Dimana pada saat penangkapan aparat kepolisian tidak memperkenalkan diri kepada korban maupun keluarga korban. Dan tidak membawa surat tugas, tidak membawa surat perintah dan tidak membawa tokoh masyarakat ataupun ketua RT setempat saat membawa korban Abdul jalil.
Selain itu aparat Polres Kendari tidak langsung membawa ke Polres sehingga terindikasi aparat polres Kendari melakukan upaya kekerasan terlebih dahulu, sebelum dibawah ke Polres.

“Kami menuntut Polisi Daerah (Polda) Sulawesi Tenggaara (Sultra) untuk mengusut tuntas tindakan kesewenang-wenangan yang dilakukan pihak kepolisian dalam hal ini Polres Kendari dalam melakukan penangkapan terhadap korban Abdul Jalil yang telah meninggal dunia,” tuturnya.

Di tempat yang sama Kuasa Hukum Korban, Angselmus, mengatakan Komnas HAM akan segera melakukan penyelidikan terhadap aparat kepolisian (Polres Kendari, Red) mengenai prosedur penangakapan terhadap Abdul Jalil. “Kami meminta agar dua orang wartawan yang ikut meliput pada saat penangkapan terhadap Abdul Jalil diperiksa, dan harus disita semua gambar atau video pada saat penangkapan untuk mengetahui siapa yang bertanggung jawab atau yang memerintahkan penangkapan atau penculikan terhadap Abdul Jalil,” imbuhnya.

Masih di tempat yang sama, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KONTRAS) Jakarta Satrio Wirawan, menuturkan, kasus penangkapan terhadap korban, yang mengakibatkan kematian almarhum Jalil, ini akan dikawal. Melalui proses pidana maka pelaku akan dihukum seberat-beratnya, bisa dihukum pidana tinggi atau di pecat. “Kita tidak mau kalau ada polisi yang brutal, seenaknya menyiksa orang dan dia (polisi, red) juga bisa bekerja seperti biasa mendapat gaji dari negara. Dalam hal ini kita membayar seorang pembunuh yang punya senjata,” tutupnya. (p2)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

The Latest

To Top