Kaji Hari Lahir Kolaka, Golkar Butuh Banyak Rujukan – KOLAKA POS

KOLAKA POS

BERITA UTAMA

Kaji Hari Lahir Kolaka, Golkar Butuh Banyak Rujukan

KOLAKA POS, KOLAKA – Fraksi Golkar DPRD Kolaka meminta semua pihak untuk memberikan masukannya menyusul munculnya berbagai polemik terkait Hari jadi Kabupaten Kolaka yang selama ini diperingati setiap tanggal 29 Februari. “Hari jadi kolaka memang perlu dicari titik temunya, karena selama ini potensi polemik memang ada karena belum adanya kesepakatan pemerimtah dengan rakyat melalui DPRD yg dijadikan rujukan, untuk itu terbuka ruang masukan dan pendapat,” hal ini dikemukakan H Bakri Mendong, Ketua fraksi Golkar Kolaka.

Lanjutnya menentukan hari jadi sesuatu obyek daerah atau kota tertentu tidak semudah seperti menentukan HUT orang perorang yg cukup melihat hari lahirnya. “Kalau orangkan gampang saja tinggal kita lihat tanggal lahirnya, tapi kalau daerah seperti Kolaka ini, harus melihat dari banyak sudut pandang, apakah hari lahirnya kabupaten Kolaka melihat sejak keluarnya Undang-Undang pembentukan Kabupaten Kolaka atau sejak dilantiknya bupati Kolaka pertama atau sejak adanya Kepala Pemerintahan Negeri (KPN) peralihan onder afdeling Luwu?,” kata ayah dari politisi Senayan Haerul Saleh itu.

Bahkan katanya rujukan lain juga yaitu sejak kerajaan Mekongga yang ditandai dengan disepakatinya Larumbalangi sebagai Bokeo (raja) pertama Kerajaan Mekongga yg berkedudukan di Kolumba yg berubah nama Kolaka tersebut.

Sehingga dengan Banyaknya rujukan yang bisa dijadikan dasar Perda menentukan hari jadi Kolaka tersebut menurut Bakri Mendong, perlu mendapat kajian yang lebih mendalam dan menyeluruh. “Banyak versi yang bisa dijadikan rujukan memang, tapi menurut beberapa pemerhati budaya dan sejarah kolaka yang saya temui bilamana kita buatkan perda maka kontrovesi dan polemik sudah tidak ada lagi, hanya saja yang penting dlm menentukan itu harus melalui kajian yg mendalam dan diskusi yg konprehensip dari bukti tulisan maupun lisan dari para pelaku sejarah atau petunjuk-petunjuk lainya yang bisa dijadikan acuan, di daerah lain misalnya seperti Makassar dan Jakarta hari jadinya yang kesekian ratus tahun bertolak dari sejak adanya kota tesebut,” jelasnya.

Tapi yang terpenting menurut Bakri Mendong mentukan hari jadi Kolaka memalui kesepakatan yang diambil secara demokratis dan penuh kearifan dengan todak dilandasi ego sentris dari pelaku sejarah itu sendiri. “Yang penting niatan kita, apa tujuan dan manfaat dilakukan hari jadi bukan hanya untuk hura-hura dan pemborosan dana, ininya bagaimana mengenang sejarah dan menghargai para pejuang daerah ini sehingga Kolaka ada dan berkembang seperti yang kita nikmati sekarang ini,” ungkapnya.

Bakri juga mengaskan, bila Perda sudah disetujui maka wajib hukumnya semua masyarakat Kolaka untuk menaatinya. “Kalau nanti disepakati menjadi Perda semua harus menaatinya, saat ini untuk melengkapi Raprda tersebut DPRD telah turun ke kecamatan mendengarkan aspirasi dan masukan masyarakat selama enam hari bahkan komisi 1 akan menggelar RDP dengan instansi terkait untuk menyempurnakan raperda tersebut termasuk teknik upacara, tata upacara peserta dan sebagainya,” tegasnya. (cr4)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

The Latest

To Top