Miskin, Penderita Atresia Ani di Kolaka Butuh Bantuan – KOLAKA POS

KOLAKA POS

BERITA UTAMA

Miskin, Penderita Atresia Ani di Kolaka Butuh Bantuan

KOLAKA POS, KOLAKA – Kolaka tercatat beberapa kali sebagai daerah penyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terbesar di Sultra. Indikator, tersebut menyatakan Kolaka sebagai daerah yang maju. Tapi, indikator lain menunjukkan kontradiksi dengan data ekonomi tersebut.

Contohnya, Hayati, seorang ibu hanya mampu menangisi nasib anaknya yang menderita Atresia Ani dan tidak dapat disembuhkan total karena tidak memiliki uang. Atresia Ani adalah kelainan kongenital, yakni bayi yang baru lahir tidak memiliki anus.

Hayati yang tinggal di jalan Selamet Riadi, kelurahan Watuliandu, kecamatan Kolaka hidup di gubuk ukuran 2×3 meter bersama empat anaknya. Salah seorang diantara anaknya, Trie Urip Lestari terlihat hanya berbaring lemas, ditempat tidurnya setiap hari lantaran menderita Atresia Ani.

Menurut Hayati, anaknya pernah dirujuk ke rumah sakit di Makassar yang dibiayai oleh bupati sebelumnya, yakni Buhari Matta, untuk operasi Clostomi atau operasi pada pembuatan saluran pembuangan tinja melalui perut. ”Setelah beberapa tahun berjalan kemudian dilakukan operasi pembuatan lobang anus,” ungkapnya saat ditemui dikediamannya.

Namun seiring berjalannya waktu, tinja bocah itu masih keluar lewat perut bekas operasi, lantaran belum dilakukan penyambungan saluran yang menghubungkan langsung ke anus. ”Tidak punya biaya mas mau operasi sambungan saluran tinjanya kembali, mahal kasihan. Untuk makan saja susah,” ujarnya sambil meneteskan air mata.

Penghasilan suaminya yang kerja serabutan di Pasar Raya Mekongga, hanya sekedar dipakai untuk mengepuli dapur setiap hari. Sementara pancaran wajah ibu empat anak tersebut, masih mengharapkan belasan kasih dan bantuan dari Pemda Kolaka, yang hingga saat ini belum pernah ada yang melihatnya. ”Belum pernah pak, baik instansi terkait maupun bupati sendiri, semoga bapak bupati Ahmad Safei bisa bantu,” terangnya.

Sementara anaknya Trie, terpaksa berhenti sekolah saat menginjak di bangku kelas dua SD, lantaran tidak bisa menahan rasa sakit dan malu lagi ke sekolahnya.”Kadang-kadang datang sakitnya kalau lagi buang air,” ungkap trie.

Dia cuma bisa berharap, agar Pemda Kolaka bisa membantu biaya operasinya, sehingga bisa bersekolah lagi dan bermain bersama teman seusianya. ”Pengen sehat, sembuh, bisa sekolah dan bermain bersama teman,” tandasnya. (cr1)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

The Latest

To Top