Warga Walay Berharap Ada Pembangunan Jembatan – KOLAKA POS

KOLAKA POS

Jazirah Sultra

Warga Walay Berharap Ada Pembangunan Jembatan

Warga saat menyeberang sungai Lahumbuti menggunakan rakit bambu.FOTO : Husman/Kolaka Pos

KOLAKA POS, UNAAHA – Sejak hanyutnya jembatan penghubung dua tahun lalu, yang biasa digunakan warga desa Walay ke kebun miliknya, kini warga di wilayah tersebut terpaksa mengandalkan rakit bambu sebagai alat transportasi mereka jika hendak menyebrang sungai Lahumbuti, keadaan tersebut dilakukan warga karena pemerintah dianggap tidak merespon keinginan warga.
Rakit bambu yang disusun sedemikian rupa, dibuat warga secara gotong royong dan hasilnya sangat beguna bagi para masyarakat di wilayah tersebut, karena dengan adanya rakit tersebut warga bisa menyeberangi sungai Lahumbuti meski dengan peralatan seadanya. Meski sudah memiliki rakit tersebut, masyarakat tentunya masih mengharapkan bantuan pemerintah. untuk dibuatkan jembatan kayu agar bisa diseberangi dengan kendaraan roda dua.
Salah satu warga yang sering menggunakan rakit tersebut Pandi, pemerintah daerah Konawe seharusnya membuat jembatan kayu atau jembatan gantung, agar lokasi tersebut bisa dilalui dengan kendaraan roda dua. Sebab, jika menggunakan rakit bambu, maka kendaraan miliknya terpaksa harus disimpan, sedangkan kalau mau membawa kendaraanya di kebun itu harus berputar sejauh lima kilometer baru bisa sampai ke kebunnya.
“Kalo mau bawa motor sampe di kebun kita berputar pi di Lalonggowuna, kalo tidak mau kita menyeberang saja disini (Sungai Lahumbuti, red), tapi motor kita simpan di sini, waktu ada jembatan kayu motor bisa kita kasi lewat,” katanya.
Sementara itu, penjaga pintu air bendungan Walay Saripuddin mengatakan, jembatan kayu yang pernah dibuat warga, hanyut saat air besar menghantam jembatan, dan saat itu jembatan seketika rusak. Untuk mensiasati menyeberang, maka dia dan sejumlah warga gotong royong membuat rakit bambu.
“Dua tahun mi ini jembatan dia rusak, kalo ini rakit saya dengan warga yang bikin, kita gotong royong, daripada kita berputar di sana (Lalonggowuna, red) jauh,” ungkapnya.
Menurutnya, rakit yang dibuat gotong royong tersebut, saat ini memang masih digunakan warga karena air sungai masih stabil, namun jika volume air mengalami peningkatan, maka rakit tersebut tidak bisa digunakan karena dikhawatirkan kawat pengikat rakit putus.
“Kalo sekarang masih normal, kalo air dia naik biasa hanya yang berani saja yang lewat, karena kalo naik air itu arusnya keras,” jelasnya. (m4)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

The Latest

To Top