Kades Waturempe Bakal Polisikan CV. Aulia Pertiwi Baubau, Terkait Dugaan Penipuan Pemasangan Listrik – KOLAKA POS

KOLAKA POS

Jazirah Sultra

Kades Waturempe Bakal Polisikan CV. Aulia Pertiwi Baubau, Terkait Dugaan Penipuan Pemasangan Listrik

KOLAKA POS, RAHA -Sedikitnya 76 kepala keluarga yang bermukim di desa Waturempe, kecamatan Tiworo, kabupaten Muna Barat, merasa ditipu oleh perusahaan yang dikelola Wa Ode Tien Indah Sari Bolu.
Pasalnya, perusahaan pemasangan instalasi listrik dengan CV Aulia Pertiwi Baubau, yang beralamat di jalan MH. Thamrin nomor 29 Kota Baubau itu, dianggap oleh warga desa Waturempe tidak tepat janji. Sebab, setelah warga membayar biaya instalasi dan biaya pemasangan, pada 21 Maret 2013 lalu, namun hingga saat ini Juni 2016 mereka belum juga mendapatkan listrik yang dijanjikan.
Menurut Kepala Desa Waturempe La Ato, ketika itu dirinya dijanjikan oleh salah seorang instalator CV. Aulia Pertiwi Baubau, akan membawakan material untuk pemasangan instalasi listrik. Setelah pertemuan dengan instalator, ia yang notabene selaku kepala Desa langsung menggelar rapat dengan warga untuk membahas persoalan teknis, yang berkaitan dengan pembayaran pemasangan instalasi listrik.
“Saat itu warga dimintai panjar sebesar Rp350 ribu setiap rumah. Uang yang terkumpul saat itu sebanyak Rp20 juta dan dianggap sebagai panjar pemasangan instalasi,” papar La Ato.
Setelah itu lanjut La Ato, proses pemasangan instalasi berjalan setengah, Wa Ode Rien Inda Sari Bolu atau yang akrab disapa Orin, datang ke lokasi dan meminta untuk difasilitasi bertemu dengan masyarakat.
“Dalam pertemuan tersebut diputuskan sama Orin biaya tambahan sebesar Rp3,5 juta. Ia menjamin lampu yang telah terpasang instalasinya akan dinyalakan. Akan tetapi, karena saat itu kendalanya adalah tiang listrik yang belum ada, pada waktu itu Orin mengarahkan kami untuk memasang tiang listrik dari kayu,” ucap La Ato.
Akan tetapi, peraturan PLN melarang pemasangan tiang listrik dari kayu. Akibatnya, proses pemasangan listrik di rumah warga pun tertunda. Hingga pada akhirnya tiang listrik masuk ke Desa Waturempe. Nah, kemudian Orin menghubunginya via telephone, dimana Orin meminta kepala dirinya agar mentrasfer uang sebesar Rp50 juta, guna biaya penyambungan (BP).
“Setelah uang tersebut saya transfer, selanjutnya Orin hilang kontak, ponselnya tidak bisa dihubungi alias tidak pernah aktif,” tutur La Ato.
Akan tetapi, ia terus berupaya untuk bertemu dengan Orin di Baubau. Ia pun pergi ke Baubau, namun selama dua hari di Baubau Orin tak kunjung datang menemuinya.
“Saya merasa ditipu dan dibohongi olehnya, sementara disisi lain warga desa terus mendesak saya. Kami bersabar sampai beberapa bulan, namun tak pernah ada kabar juga darinya,” sesal La Ato.
Menurut La Ato, Orin sudah dapat untung banyak, bahkan ia menganggap masyarakat sudah memberikan modal untuk Orin. “Bayangkan, Rp350 ribu dikali 76 pelanggan, ditambah lagi BP sebesar Rp50 Juta,” kata La Ato sambil memukul-mukulkan tinjunya di atas meja.
Mendapat tekanan masyarakat, membuat La Ato selaku kepala desa berusaha mencarikan solusi alternatif untuk masyarakatnya, agar instalasi listrik yang sudah terlanjur tepasang, dapat menyala. Dalam usahanya itu, ia bertemu Darmin, seorang pengusaha yang juga bergerak pada bidang pemasangan instalasi listrik.
“Saat itu Darmin memberikan saran kalau ingin cepat menyala, harus diregistrasi dulu di PLN,” paparnya.
Dengan dibantu Darmin, dirinya melakukan proses registrasi ke PLN, untuk mengusahakan listrik dapat menyala di 76 rumah.
Namun sayangnya, dalam pengurusan tersebut warga kembali harus membayar BP ke PLN, yang akhirnya hanya disanggupi oleh 37 unit, sedangkan 40 unit sisanya masih tertunda.
“Karena uang kami sudah hangus disetorkan ke Orin untuk pembayaran BP, yang mampu membayar BP untuk PLN hanya 37 unit, sementara 40 unit lagi belum terbayarkan. Untuk 37 unit tersebut dibayar dengan nilai per unitnya Rp1,3 Juta,” jelas La Ato.
Kebahagiaan sedikit muncul, setelah proses kerjasama antara dirinya dan Darmin membuahkan hasil dengan adany listrik ke 37 rumah warga Desa Waturempe.
Namun ironisnya setelah lampu menyala, Orin muncul dan melaporkan Damin ke Polres Muna dengan alasan telah dirugikan oleh Darmin. Padahal sebelumnya, Orin susah dicari. “Setelah 37 rumah menyala, tiba-tiba dia (Orin, red) muncul dan melaporkan orang yang sudah bantu masyarakat,” kisahnya.
Menurutnya, atas saran Orin, ia juga sudah membayarkan sisa BP untuk 40 unit yang disetorkan via Kantor Pos dan Giro, namun hingga hari ini belum menyala juga. “Kalau memang Orin punya tanggung jawab, kenapa sampai saat ini belum dinyalakan, padahal BP-nya saya sudah bayar dan bukti penyetoran ada sama saya, disini pada resi pembayarannya tertulis tanggal 19 Oktober 2015,” ungkap La Ato dengan nada kesal.
La Ato menambahkan, dirinya kesal dengan sikap Orin, yang berdalih biaya instalasi masyarakat belum lunas, sehingga listrik belum bisa dialirkan ke rumah warga. Padahal masyarakat telah melunasi uang pembayaran sesuai kesepakatan.
“Kemudian BP senilai Rp50 Juta yang saya transferkan, dia kemanakan? Ini akan kami laporkan ke pihak yang berwajib,” tandasnya. (m1)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

The Latest

To Top